International Women’s Day, RA. Kartini, dan Pernikahan Dini

Tanpa ada perayaan International Women’s Day (Hari Perempuan Internasional) pun, semua orang pasti merayakan hari perempuan setiap hari. Bahkan dalam hitungan detik. Setiap ada lintasan kesadaran sosok Perempuan.

Sosok Perempuan, bisa saja ia adalah Ibumu, Kakak Perempuanmu, Adik perempuanmu, Istrimu, dan semua perempuan yang berjasa atas kesuksesanmu.

Sepintas memang perayaan Hari Perempuan Internasional biasa saja bagi orang Indonesia. Namun, bagi dunia Barat merupakan sebuah perjuangan panjang nasib perempuan, tepatnya di New York pada tahun 1909 Partai Sosialis Amerika melakukan unjuk rasa pada 8 Maret 1909, dilakukan sebagai protes dari perempuan buruh yang bekerja di pabrik tekstil.

Unjuk rasa dilakukan, sebagai perlawanan atas tindakan semena-mena terkait upah rendah yang diberikan perusahaan. Konon unjuk rasa ini, pernah melibatkan lebih dari 15 ribu perempuan buruh pabrik tektil di New York. Dan gerakan yang mengatasnamakan perempuan ini, terus merapikan panggungnya untuk mewujudkan hak politik, hak memilih, serta hak jabatan publik untuk perempuan.

RA. Kartini dan Emansipasi Perempuan

Tidak sedikit di Indonesia yang menolak International Women’s Day, mereka lebih melihat asbabun nuzul (sebab-musabab)-nya. Gerakan ini, memang lahir di barat. Sedikit banyak pijakan nilainya versi dunia barat. Pijakan nilai-nilai dunia barat tentu berbeda dengan dunia timur.

Namun, apapun perbedaannya. Selama bertujuan memperjuangkan nasib perempuan sebaiknya tetap disuarakan, apapun momentumnya. Tujuan inilah yang menjadi alasan agar perempuan timur terus bergerak menyongsong hak yang sama dengan laki-laki dalam ranah keluarga dan publik.

Selama ini, perempuan di dunia timur (termasuk di Indonesia) masih digambarkan sebagai perhiasan keluarga. Posisioning perempuan timur masih diidentifikasi dengan Sumur (mencuci), Kasur (melayani sex suami), Dapur (memasak). Sebagai perhiasan tak ubahnya benda berharga tapi didiamkan, sengaja didiamkan, atau memang memilih diam dengan sendirinya.

Tidak aneh jika dalam tuturan sejarah masa lampau, mayoritas perempuan tidak diperbolehkan menempuh pendidikan yang tinggi. Bahkan masih terlihat hingga saat ini, masih saja ada ungkapan “ngapain sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya di dapur juga”.  

Barulah pada saat RA. Kartini melakukan gerakan emansipasi perempuan Indonesia. Ia menuntut persamaan hak, kebebasan, otonomi, serta kesetaraan di mata hukum membuka mata masyarakat. Iapun sadar, langkah terbaik untuk mengawali emansipasi bagi perempuan Indonesia adalah melalui pendidikan.

Selanjutnya, ia bertekad membangun sekolah wanita pertama di Kabupaten Rembang. Iapun menyadari bahwa latar belakang pendidikan yang kuat akan mewujudkan emansipasi perempuan Indonesia di masa depan.

International Women’s Day Mestinya Menggugat Pernikahan Dini

Tahun 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka persentase pernikahan dini se Indonesia. Dibanding data sebelumnya ternyata angka pernikahan dini meningkat dari 14.18% menjadi 15.66%. Penggolongan pernikahan dini adalah perempuan yang menikah pertama di usia 16 tahun atau kurang. Berikut persentase perpropinsi;

  1. Kalimantan Selatan sebanyak 22,77% sebelumnya 21,53%
  2. Jawa Barat sebanyak 20,93% sebelumnya 17,28%
  3. Jawa Timur sebanyak 20,73% sebelumnya 18,44%

Data ini, walaupun menunjukkan presentasenya berkurang, tapi tidak begitu signifikan. Artinya, pernikahan dini masih banyak berlangsung, walaupun efeknya berpengaruh pada tingkat kematian bayi dan angka harapan hidup. Di duga kuat, hal tersebut terjadi karena kesiapan orang tua secara psikologis dan kesehatan menjadi penyebabnya.

Sudah sekian tahun perjuangan emansipasi wanita dilakukan RA Kartini hingga perayaan International Women’s Day yang dilakukan para insan millenial, sepertinya masih menjadi perjuangan dan perayaan yang sia-sia.

Masih banyaknya pernikahan dini, menjadi salah satu bukti kesia-siaan itu. Serta identifikasi perempuan dengan Sumur (mencuci), Kasur (melayani sex suami), dan di dapur (memasak) masih menjadi anggapan laki-laki hingga saat ini. Ini fakta, relasi laki-laki dan perempuan masih timpang. Perempuan belum bisa memaksimalkan pertukaran peran dengan laki-laki dalam ranah keluarga maupun publik.

Tidakkah keadaan ini terlintas di pikiran orang-orang yang merayakan International Women’s Day?

Selamat Merayakan International Women’s Day…!!!

*Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini