Intuisi. Respon kita atas sesuatu yang kita hayati, biasanya bersifat intuitif. Hal itu termasuk pada saat kita berstrategi membangun situasi sosial baru di sebuah unit sosial ekologis tertentu, katakanlah di sebuah desa, atau di sebuah kampus. Salah satu strategi itu adalah membangun tim inti untuk memimpin perubahan situasi tersebut.
Lazimnya, strategi ini dikategorikan sebagai aspek politik dari dunia masyarakat. Teori-teori makro akan berbicara mengenai bagaimana manajemen kontrol orang ini diatur. Lalu muncul faham demokrasi, maka segala sesuatunya harus dimusyawarahkan. Tapi musyawarah dengan siapa, apa semua orang bisa diajak musyawarah strategi, apa akan efektif? Maka pilihan lain muncul, oligarki, sekelompok orang saja yang musyawarah menentukan urusan bersama. Tapi kita pernah ada dalam suatu ranah, dimana kita tidak mendapat satu orangpun untuk diajak bicara strategi. Maka kita sendiri yang menentukan strategi, maka muncul otokrasi.
Sifat Intrumental. Dalam “kuasa konteks masalah”, kita mengambil sebuah pilihan kongkrit dari relasi dialogis dengannya. Kita dan konteks. Dan relasi ini, yang saya sebut intuitif, menentukan pilihan tindakan kita. Pilihan tindakan, apakah demokrasi, oligarki, atau otokrasi, itu netral nilai, itu instrumen. Instrumen berubah-ubah, menyesuaikan konteks. Nilai-nilai yang digunakan, adalah ketika subyek berelasi untuk menentukan pekerjaan.
Saya harus mengambil keputusan segera saat di lapangan untuk menyelesaikan masalah, dan itu tidak bisa dengan menunggu laporan untuk merumuskan keadaan secara intelektis: konseptualisasi langkah demi langkah demokrasi, atau oligarki, atau otokrasi. Suasana itu datang dalam kelengkapan konteks dan sumberdaya, serentak.
Apa kita tidak memiliki ruang untuk ambil jarak barang sebentar, sehingga kita dapat menemukan pilihan lebih baik? Mungkin begitu. Namun mengambil jarak juga merupakan hal yang relatif, dan intuisi bekerja di dalam relatifitasnya ini.
Gender. Intuisi dengan demikian, adalah kekayaan kita dalam menggunakan instrumen yang didikte oleh konsep makro. Itu berlaku untuk berbagai isu yang sedang kita perjuangkan. Isu gender, menentukan masalah ketidakadilan dan memperjuangkan keadilan gender, tidak dapat dilakukan dengan konsep makro an-sich. Intuisi akan merevisi strategi-strategi makro itu, untuk lebih menghayati konteks mikro.
Pendidikan. Pun juga dengan pendidikan. Konteks pendidikan formal itu hanyalah satu sistem. Standardisasi pendidikan selalu membawa masalah hegemoni, dominasi atas konteks mikro. Jika seorang guru tidak cukup wawasan dan kepekaan, intuisinya akan mandek. Dengan demikian dia akan menjadi tukang hapal dalam mengajar. Menghapal bahan, dan menghapal metode serta instrumen. Andragogi dengan instrumen kesadaran kritis, adalah penuh daya intuitif. Jika tanpa intuisi, maka instrumen kesadaran kritis hanya menjadi dogma baru untuk dihapal.
Mencari Tim. Nah, dalam konteks keseluruhan intuitif ini, membangun dan memilih tim merupakan tantangan yang dinamis. Bongkar pasang tim itu biasa. Dalam konteks intuisi ini, membangun tim adalah medan pendidikan membentuk diri dan sosial yang intim. Dalam intimasi ini, maka kedok individu akan muncul tanpa di minta.
Tiba-tiba kita menyadari setelah beberapa saat, beberapa tim kita ternyata memiki baju yang tebal. Di lapisan luar berbulu beludru tebal halus, lalu setelah bekerja bersama rontok berganti wall agak kasar, dan setelah berproses jadi sutra tipis yang elegan dan jernih. Kita menjadi tim yang luar dan dalam.
Namun, bisa pula anda menemukan tim sebaliknya. Tadinya seperti sutra, lalu jadi wall, dan terakhir jadi tempurung kulit yang susah ditembus.
Tasawuf. Maka, intuisi ditantang. Pakaian anggaplah pakaian. Tujuan adalah hal berbeda. Dan proses juga hal yang berbeda lagi. Semua adalah sebuah permainan, permainan yang intuitif.
Cirebon, 17 Juni 2020

