Isim Nakirah dan Ma’rifat; Syarat Menjadi Orang dikenal Publik

Isim Nakirah dan Ma’rifat sebagai bentuk syarat menjadi orang dikenal publik, karena Lafad Isim Nakirah dan Ma’rifat mempunyai arti yang cukup mendalam menurut beberapa refrensi. Mengapa penulis mengaitkan ketika seseorang ingin dikenal publik syaratnya harus menjadi Isim Nakirah dan Ma’rifat? Mari kita baca dengan seksama ke bawah.

Kandungan makna dalam Kitab Alfiah Ibnu Malik sungguh melimpah, tidak hanya tentang ilmu Nahwu, tapi ternyata melampaui kajian awalnya. Ada kandungan falsafah di dalamnya. Alfaqir selama ini, termasuk orang yang sedikit abai atas harta peradaban keilmuan Islam ini. Namun, sepertinya Alfaqir belum terlambat untuk membuka lagi kitab ini, dengan pendekatan falsafi.

Salah satu bait dalam kitab Alfiah, sebagaimana dirangkai oleh Imam Ibnu Malik menjelaskan tentang isim nakirah, dalam kitabnya Alfiyah Ibnu Malik:

نكرةقابل أل مؤثرا # أو واقع موقع ما قدذكر

Artinya asalnya sebagai berikut: “Isim nakirah adalah isim yang menerima alif+lam yang mempengaruhi kema’rifatan atau menempati posisi isim yang dapat menerima alif+lam”.

Ternyata, tidak hanya melulu demikian maknanya. Jika ditafsirkan secara  sosial kira-kira begini:

Jika kamu belum dikenal publik, maka kamu perlu media yang dapat memperkenalkanmu pada publik. Jika tidak mempunyai itu, salah satu cara yang efektif adalah memposisikan diri menjadi orang yang pantas dikenal publik.

Bisa ditafsirkan begini: Orang dapat dikenal publik karena dua faktor, yaitu أ (alif) dan ل (lam). Pertama, faktor أ (alif), maksudnya karena الله yang ingin memperkenalkannya pada publik. Kedua, faktor ل (lam), maksudnya karena dirinya yang memposisikan diri layaknya huruf lam (ل) al-muzahlaqah, yaitu lam taukid (yang menguatkan) atau lam ibtida’ (yang mengawali).

Ciri-ciri lam al-muzahlaqah biasanya berharakat fathah. Secara arti kata فتح adalah membuka. Jika diartika secara sosilogis, bahwa orang yang cendrung terkenal dia yang membuka kebuntuan menjadi kelancaran dan mengawali/menguatkan sesuatu yang bernilai maslahah bagi manusia.

Nah, tentang efek kemaslahatan ini berbanding lurus dengan ‘kesungguhan’. Artinya, tidak ada sesuatu perbuatan yang bernilai maslahah kalau tidak dilakukan bersungguh-sungguh. Layaknya lam muzahlaqah yang keberadaannya ditentukan oleh adanya huruf إن (inna), yaitu upaya yang sungguh-sungguh. Contoh kalimatnya: إن الانسان لفي خسر.

Wallahu a’lam bi Al-shawaab

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini