Ketahuan Mokél

Ini cerita nyata, mengenai nama disamarkan untuk menjaga privasi. Mukri mempunyai adik bernama Mu’id, keduanya punya satu kesamaan, yaitu “cuek bebek” alias nggak ngurus. Istilah Madura-nya “deng magendeng jeppangan”.

Perbedaannya banyak sekali. Dalam hal penampilan, Mukri lebih niciz kalau pakai baju, apalagi kalau sampai pakai kopyah hitam, ujung bagian depan kopyah runcing, seruncing senjata bambu runcing. Sedangkan Mu’id berpenampilan sabiyasah! Tapi walaupun sabiyasah dalam penampilan, dia punya ciri khas yang unik, gaya rokoknya yang membuat seisi ruangan seperti kebakaran.

Suatu ketika di bulan puasa, saudaranya yang bernama Faruq meminta mereka berdua belanja sesuatu di pertokoan Surabaya. Di sekitar pertokoan, mereka memilih berpencar agar lebih menyingkat waktu, maklum bulan puasa. Tapi, setelah muter-muter, barang yang dicari tak kunjung ditemukan.

Ketika waktu sudah menunjukkan jam 12.30 WIB, Mukri mengirim sms ke Mu’id, “ada dimana, nemu ta?”

Lalu dibalas oleh Mu’id, “bentar masih nyari”.

“Ayo pulang…”. Sms Mukri lagi.

Karena tak kunjung kembali ke titik berpencarnya, dan sms nggak dibalas. Mukri akhirnya menyusul dan mencari Mu’id ke dalam pertokoan. Betapa terkejutnya Mukri, ternyata Mu’id mokél di warung pojok dengan nikmatnya.

Tanpa sepengetahuan Mu’id, Mukri mokél juga di tempat yang sama sambil sembunyi agar tidak kelihatan oleh Mu’id.

Setelah ngerokok habis dua batang, Mu’id mengirim sms ke Mukri. “Ada dimana? Ini saya sudah muter-muter nggak nemu juga, ayo pulang saya sudah lapar dan haus”.

Sambil makan, Mukri membalas sms Mu’id. “Tunggu bentar, saya juga masih keliling kalau belum nemu juga kita pulang, Kamu tunggu di titik berpencar ya…”. Setelah Mu’id berlalu, Mukri bayar pesanan makanan dan minuman ke kasir, dan sengaja mengambil jalan lain menuju titik yang dituju.

Mereka berdua menuju ke parkiran motor sama-sama diam tampa sepatah katapun. Seolah-olah sama-sama lemas. Setelah sampai ke rumah kakaknya, Si Mu’id berseloroh, “adddoooh…panas, ini sudah lapar dan haus bangetz”.

Mendengar selorohan Si Mu’id yang sok lapar dan haus, Si Mukri berguman, “mmm patiiiiiit!!! assseeem…wkwkwkwk”.

Sampai cerita ini Saya tulis, kemungkinan besar Si Mu’id masih belum tau kalau dulu yang mokél ketahuan Si Mukri.

***Ditulis oleh Fanajidu

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini