Emanuel Kant dikelompokkan sebagai pemikir kritis karena mempertanyakan kondisi kemungkinan dari pengetahuan kita sendiri. Filososf sebelumnya ranah diskusinya masih sekitar tentang Allah, kebebasan, kekekalan jiwa, dan merumuskannya secara ontologis.
Kant meninggalkan diskusi sekitar itu, dan lebih mengarahkan diskusinya sekitar tentang “rasio kita sendiri” yang senantiasa dijadikan alat untuk mendiskusikan hal yang metafisis. Tujuannya, untuk menyelidiki batas kemampuan rasio hingga dapat dianggap benar.
Kant dengan mempertanyakan batas kemampuan rasio kita sendiri, setidaknya telah membuat gelisah filosof-filosof sebelumnya yang sibuk menjelaskan tentang hal-hal metafisis.
Debut Kritisisme ala Kantian ini terjadi pada masa Aufklarung sekitar abad ke-17 dan 18. Kurang lebih 450 tahun yang lalu, Kant menguji rasio tentang sahih tidaknya klaim pengetahuan dengan tanpa prasangka, itupun hanya dilakukan oleh rasio belaka.
Hingga abad ke-21, penyelenggaraan diskusi metafisis tetap berlangsung, walaupun dalam lipatan sejarahnya terus ada klarifikasi-klarifikasi dari kelompok yang merasa jengah dengan para pencari kenikmatan sekitar hal yang tak kasat mata.
Seolah tak kunjung diam melogikakan untuk membuat orang percaya bahwa kondisi dan efek alam metafisis itu sedemikian rupa, sehingga lupa dengan fakta-fakta konkret yang sedianya menjadi titik tolak untuk mencari jalan keluar dari persoalan.
Anggota mereka tidak sedikit, mereka semakin banyak karena rajin mengandvokasi satu sama lain (saling menguatkan) dogmatisme mereka. Sedangkan kelompok penentang cendrung tak mempunyai kelompok solid, karena bagi mereka berkelompok dengan menyusun pengetahuan sama untuk sesama berarti pengingkaran terhadap “rasio kita sendiri” yang anti kemapanan.
Hingga kini, yang dogmatik dan yang anti kemapanan berseteru dalam hingar bingar virus Corona yang mewabah. Tidak sedikit yang berusaha menjelaskan duduk posisi masing-masing pengetahuan itu, namun tidaklah mudah karena terlalu tebal garis pembeda yang dibuatnya, yang terjadi justru bertambah saling curiga.
Mengambil semangat kritik Kantian. Kritik seharusnya tidak hanya diarahkan ke yang berpikiran dogmatik saja, kritik juga harus dialamatkan ke kubu rasional saintifik, misalnya mempertanyakan batas kemampuan pengetahuan saintifik dalam menanggulangi pandemi. Jika toh, pengetahuan saintifik yang lebih efektif, yang dogmatik baiknya segera menepi dulu. Karena bagaimanapun, dalam suasana pandemi akur itu lebih baik.

