Temanku memelihara kucing hingga puluhan ekor. Ia terlihat sangat menyayangi kucing-kucingnya. Pernah suatu ketika menelponku sambil menangis, karena satu kucingnya sekarat, mulutnya berbusa. Ia menduga kucingnya keliru makan racun (diracun).
Seringkali kucingnya hilang tanpa jejak. Iapun menduga ada orang yang menangkapi kucingnya, dan dijadikan makanan Ular Piton peliharaan. Dugaan temanku sebenarnya tanpa bukti. Tapi, dugaan temanku bisa jadi benar. Aku sendiri pernah tinggal di rumah kontrakan di Surabaya, yang menurut cerita orang-orang setempat, bekas ditinggali orang yang memelihara beberapa ular besar, dan dikasih makan kelinci, kadang kucing kecil.
Rasa sayang temanku pada kucing-kucingnya, menurutku di luar batas kewajaran. Aku menduga seperti itu, dulu. Tapi setelah Aku memlihara kucing, empat kali. Waktu awal-awal menempati rumah di perum Griya Utama, Aku memelihara dua kucing. Satu diambil orang, yang satu mati. Kemudian memelihara lagi, satu ekor kucing dan sering berada di rumahnya tetangga, terutama malam hari, anaknya juga menyukai kucing itu. Dan sering rebutan dengan anakku, Fawwaz. Tiba-tiba pagi hari, kucing itu pulang dengan mulut berbusa, dan is dead.
Yang ketiga, memelihara satu ekor kucing. Masih kecil sekali dan imut. Tapi akhirnya Aku pindahkan ke pasar karena anak bungsuku masih belajar merangkak. Saat memindahkan kucing itu, ada rasa bersalah. Tapi untunglah sudah bisa dinetralisir. Dan yang ke empat kalinya, memelihara dua kucing. Ceritanya, Fawwaz Cs menemukan satu anak kucing ini terpisah dari induknya, dan mengeong tak henti-henti. Beberapa minggu kemudian, Fawwaz Cs menemukan satu ekor anak kucing lagi, dengan cerita yang sama.
Dua kucing ini terpaut jauh umurnya. Fawwaz Cs memberikan nama Love (kucing yang agak besar) dan Luna (kucing yang kecil). Dua kucing ini, seperti kakak adik prilakunya. Mereka kejar-kejaran, saling jilat, saling gigit mesra, dan tidur berpelukan. Pokoknya ngalem pool tingkahnya. Dan polah tingkahnya ini, yang menggugah rasa sayang istriku pada kucing-kucing itu.
Istriku tidak begitu suka kucing awalnya. Ia terlihat kesal sekali kalau kucing-kucing itu pipis dan pup sembarangan. Tapi saat memelihara kucing yang ke empat kalinya. Ia terlihat pasrah menerima nasibnya, mungkin karena rasa sayangnya pada tiga anaknya yang sama-sama penyayang kucing. Bagiku juga sama. Aku memang suka kucing sedari kecil, tapi karena trauma dicakar Aku menjadi tidak begitu suka kucing. Saat anak-anakku menyukai kucing, Aku mencoba menetralisir trauma itu, dan sukses. Aku bisa suka kucing lagi. Tapi tentu, Aku bisa mengukur kadar sukanya.
Justru Aku mengagumi istriku saat berjuang berdamai dengan kucing-kucing peliharaan anak-anaknya. Ia bisa tergerak memandikan kucing-kucing itu, saat bulunya sudah berbau tidak semestinya. Ia menyuapi kucing yang kecil saat tidak mau makan (mungkin karena sakit). Ia mengobati kucing yang kena gatal-gatal. Setiap pagi, ia mencari pup kucing dan membuangnya di selokan agar tidak terinjak oleh orang-orang. Ia juga antusias membantuku membersihkan rumput-rumput yang tumbuh pinggiran jalan depan rumah agar kucing-kucing tidak lagi pup disitu, kalau sudah pup disitu sulit membuangnya.
Terakhir Aku melihatnya, mengelus anak-anak kucing itu. Ia terlihat menyatu dengan kucing-kucing itu. Sebelum akhirnya, kucing-kucing itu harus dipindahkan ke pasar. Ia berkata; “duh Saya sudah sayang kok malah begini”. Iapun usul agar dibelikan kandang. Aku tidak sepakat, sama halnya menjarakan kucing, menurutku. Lalu Aku usul agar dipindah ke Surabaya ke rumah temanku. Aku siap antarkan kalau temanku mau. Temanku juga menyarankan dibelikan kandang dan dibelikan kotak pasir.
Akhirnya, keputusan terakhir. Love dan Luna (dua kucing) dipindah ke pasar. Pertimbangannya, Love sudah besar dan bisa berburu. Sedangkan Luna, sebenarnya masih kecil, tapi sudah agak bisa berburu. Untuk Luna ini, Aku berat sekali melepasnya. Tapi gimana lagi, Love dan Luna harus dipindah untuk kenyamanan bersama dengan para tetangga.
Sebenarnya, sudah berkali-kali istriku menyarankan agar dipindah ke pasar, tapi karena masih kecil Aku tidak tega. Saat Aku tergerak memindahkan, istriku yang berat hati. Ternyata, kami berdua mempertimbangkan anak-anakku yang menyayangi kucing-kucing ini. Pagi-pagi, tiga anakku sering bermain dengan kucing-kucing ini, mengelus dan memeluknya. Alhasil, kucing-kucing ini sukses memantik rasa sayang anak-anakku pada binatang, dan yang tak kalah pentingnya bisa memalingkan dari hp. Terima kasih kucing atas kebersamaannya.
Seandainya, anak pertamaku (Fawwaz) tidak mengijinkan dipindah ke pasar. Kemungkinan tak mungkin aku pindahkan, mungkin terpaksa Aku belikan kendang. Tapi saat dijelaskan perlahan, ia setuju dengan syarat bukan Love. “Kalau Luna ngga papa Yah!” demikian bilangnya. “Keduanya Cong, kalau mereka tinggal di pasar, di sana mereka bisa berburu Tikus, dan banyak makanan, kan banyak orang jual ikan di pasar”, demikian penjelasanku. Fawwaz ragu dengan penjelasanku, tapi ia terlihat pasrah karena Aku dan Mamanya bersikukuh memindahkan.
Pada saat mau Aku pindahkan ke pasar. Aku minta ke istriku agar anak-anak dimasukkan ke kamar. Sedangkan Love dan Luna bermain di depan rumah depan rumahku. Aku panggil ”pus pus pus”. Mereka berdua berhamburan mendekatiku. Dalam hati, aku minta maaf; “Cing, maaf Aku menipumu, kalian Aku panggil hanya untuk dipindahkan”. Saat Aku masukkan karung, dua-duanya berontak. Tapi tetap Aku lajukan motor menuju pasar. Diperjalanan dua-duanya tetap berontak, hingga hampir sampai mereka diam.
Pelan-pelan Aku buka karungnya. Sambil lalu mengambil sisa makanan dan menuangkan ke batako. Saat mereka keluar, makanan yang sudah disiapkan tidak digubrisnya. Makanannya, tidak dimakan. Love terlihat bergerak waspada. Sementara Luna terlihat ketakutan. Luna meringkuk di depanku seolah berat Aku tinggalkan. Sebelum Aku tinggal, Aku ambil hp dan memfotonya, lalu Aku duduk mengawasi polah tingkahnya. Dengan berat Aku berkata; “Kucing-kucingku, maafkan Aku”.
*Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

