MEMBANGUN KEINTIMAN DENGAN ALLAH, MANUSIA, DAN ALAM

Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, memasukkan makanan dan minuman ke lubang tubuh (mulut, hidung, telinga, qubul dan dubur) dengan sengaja, serta melakukan hubungan badan dengan istri di siang hari. Ini puasa dalam kategori umum, yang penting gugurnya kewajiban.

Puasa dalam pengertian khusus, melampaui aspek kebadanan. Kategori puasanya, lebih meningkatkan ibadahnya dari hari-hari sebelumnya. Tujuan ibadah, semata-mata untuk membangun keintiman ruhnya dengan Allah SWT (hablu minallah). Keintiman ruh dengan keilahian harus disinergikan dengan kebaikan pada sesama (hablu min an-nas). 

Kualitas keintiman dengan Sang Kholik tidak berhenti dikualitas keintiman kemanusiaan saja, melainkan merambah pada keintiman dengan alam semesta (hablu min al-alam). Keintiman ini, dibangun atas dasar kesadaran untuk menjaga alam dengan baik. Tiga skenario keintiman yang dibangun di bulan puasa ini, selanjutnya terjadi pembadanan, sehingga menjadi kebiasaan pasca bulan puasa berlalu.

Khusus keintiman dengan alam semesta, saat ini manusia dipaksa sadar melalui wabah Covid-19. Logika agama, filsafat, bahkan medis masih belum menunjukkan keperkasaannya di depan Covid-19. Ini artinya, manusia perlu lebih serius bersimpuh di depan Pencipta Alam Semesta. Pencipta, yang saat ini seolah apatis melihat nyawa-nyawa berterbangan setiap harinya.

Rupanya, lagu Ebid G. Ade yang sering mengiringi setiap tayangan musibah alam di semua saluran Televisi, dangan penggalan kalimat dalam lagunya “Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang”, mengalami kebuntuan aksiomatik. Karena para pakar dibidangnya, lidahnya mengalami kekeluan tak percaya diri menanggapi wabah Covid-19. Ada yang memberikan komentar, justru terdengar hanya melontarkan kalimat-kalimat “penina bobokan” belaka.

Mungkin Kita Sedang dipaksa Menyadari Satu Hal, Entah Itu Apa?

Melepaskan diri dari memperbincangkan Covid-19, mungkin sejenak kita perlu menjadikan bulan puasa, dan segenap ibadah yang dilakukan di bulan puasa ini sebagai media perenungan.

Mungkin terlampau lama, manusia mempersoalkan hitam-putih kehidupan sehingga lupa di atas hitam-putih justru tidak ada warna. Artinya, kehidupan di bumi dengan segala tete’ benge’-nya selalu mereduksi kuasa Pencipta menjadi tangan-tangan penguasa jahil dalam kemasan kesucian. Mungkin juga sebaliknya, mengatas namakan ketiadaan warna untuk menundukkan nalar hitam-putih.

Sering tidak sadar, bahwa sebenarnya bukan tentang dimana kita berdiri, tapi tentang seberapa ringan langkah kita beranjak dari tempat kita berdiri saat kemanusiaan dikebiri dan perusakan alam tak terperi. Perlu melihat kebelakang, bukankan sebelum Covid-19 mewabah, bahaya kemanusiaan di dunia meningkat? hanya karena berbeda agama, cara pandang, dan dukungan politik membuat kemanusiaan menjadi miris. Bukankah juga, perusakan alam juga sudah mencapai puncaknya, dan mungkin saja sudah membuat alam bosan melakukan pelayanan?

Dan bukankah, kita sedang dikuasai kesombongan dan keserakahan yang nyata? Jangan-jangan kita sedang diminta menyadari dua sifat ini, sejauh apa efeknya terhadap kerusakan tatanan kemanusiaan dan alam semesta. Selamat berpuasa!

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini