Memeriksa Pola Pikir dari Kesalah Pahaman

Konon yang membedakan manusia dengan hewan, karena manusia dapat berbicara. Dalam maqalah Arab disebutkan “al-insanu hayawanun nathiq (Manusia adalah salah satu hewan yang dapat berbicara)”. Citra manusia sebagaimana maqalah ini, bisa jadi bias dalam ukuran hewan selain manusia. Misalnya Kucing, jika membuat definisi tentang dirinya, kurang lebih definisinya begini; “Kucing adalah hewan yang mampu melihat dalam gelap”.

Maqalah yang mengungkapkan ciri khas manusia, yang hanya dapat berbicara lantas dijadikan ukuran ke Mahaan manusia, sungguh sangat keliru. Manusia mestinya tidak hanya dapat berbicara saja, tapi sedapat mungkin menjadi rahmat bagi alam semesta. Tentu tidak harus menjadi seperti Nabi-nabi, tapi sedapat mungkin kehadiran sosoknya dimanapun saja, kapanpun saja, menjadi berkah bagi orang lain.

Salah satu ciri manusia menjadi berkah bagi orang lain, jika sosok tersebut sudah bisa melihat manusia lain dengan mata kasih sayang. Untuk bisa menjadi sedemikian rupa gampang-gampang susah, karena manusia perlu memeriksa terus-menerus sejauh mana kejernihan pikirannya. Karena kejernihan berpikir mempengaruhi cara menerima, memproses, menganalisa, mempersepsi, dan membuat kesimpulan terhadap informasi yang masuk melalui panca indera.

Lazimnya manusia mempunyai pola pikir. Inilah yang perlu diperiksa asal-usulnya. Memeriksa pola pikir masing-masing menjadi penting karena akan menjadi rangkaian pembebasan manusia dari komunikasi yang terdistorsi secara sistematis. Misalnya, menyadari informasi-informasi yang dimasukkan ke dalam pikiran seseorang, baik disadari maupun tidak disadari. Tentu hal ini sudah berlangsung lama, mulai sejak kecil manusia menerima indoktrinasi-indoktrinasi yang tidak semua baik untuk diri dan efeknya ke orang lain.

Belum lagi, secara alamiah seseorang menerima indoktrinasi-indoktrinasi dari figur otoritas. Sosok figuran yang dikagumi dan dipilih oleh seseorang untuk dijadikan referensi dalam menjalani hidupnya, bisa dari keluarganya atau seseorang yang mempunyai kelebihan tertentu yang dianggap pantas menjadi panutan. Dan ternyata keluarga memberikan pengarus 60% pada pola pikir seseorang, ada hubungan simetris kondisi seseorang dengan kondisi keluarganya, perlakuan orang tuanya, komunikasi dengan saudaranya, dan kondisi ekonomi keluarganya. Selanjutnya 20% dari lingkungan sekolah dan 20% dari lingkungan masyarakat dimana seseorang berinteraksi dalam kesehariannya.

Proses mengada sosok manusia, juga tidak lepas dari pilihan tindakan yang dilakukan berulang-ulang, yang lambat laun akan menjadi pola pikir seseorang. Karena pemicu tindakan berasal dari pikiran, setelah tindakan dilakukan berulang-ulang akhirnya menjadi kebiasaan. Sedangkan kebiasaan setelah menjadi pola pikir mempengaruhi setiap hal yang berhubungan dengan kehidupan seseorang. Rangkaian ini, juga tidak semua baik untuk diri dan efeknya ke orang lain, maka perlu melakukan refleksi untuk mengetahui dan memilah mana kebiasaan yang perlu buang, dan mana yang perlu terus dipakai.

Beberapa poin yang menjadi asal-usul pola pikir seseorang di atas, perlu dicermati. Karena bagian-bagian negatif yang belum disadari, berpotensi menjadikan seseorang dalam kesalah pahaman terus-menerus. Baik salah paham dengan dirinya, salah paham kepada orang lain, dan bahkan salah paham kepada Tuhannya. Jika seseorang terus menerus mengalami salah paham, maka berpotensi kehilangan kontak dengan kenyataan yang lebih luas daripada hanya sekedar salah paham tentang cara membuat kopi-susu yang dicampur garam.

Seseorang yang sudah bisa keluar dari kesalah pahaman, sedikitnya sudah memberikan rahmat bagi alam semesta, minimal untuk internal keluarganya. Batas minimal ini sewaktu-waktu bisa dilampaui hingga menjadi rahmat bagi masyarakatnya, negaranya, kehidupan dunia, dan akhirnya menjadi rahmat bagi alam semesta.

 

MR: Tapi Saya bukan Nabi?

RM: Betul. Tapi Anda perlu menirunya.

MR: Tapi Saya belum bisa, bagaimana?

RM: Berpura-puralah menjadi rahmat bagi orang lain.

MR: Kok berpura-pura, kan itu sikap manipulatif?

RM: Iya, setidaknya dengan berpura-pura menjadi rahmat bagi orang lain, tetap ada efeknya daripada ingin mencontoh Nabi-nabi tapi belum juga beranjak dari tidurmu.

MR: Oke, apa pura-pura yang harus Saya lakukan terlebih dahulu?

RM: Pura-pura melihat manusia lain dengan mata kasih sayang.

Wallahu a’lam bi Alshawaab

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini