Kenangan manis akan terus diingat, walaupun cukup lama sekali kejadiannya. Sebaliknya, kenangan yang pahit akan selalu diusahakan dihapus dari ingatan. Pedahal sebuah kenangan tidak pernah bisa dihapus dari benak seseorang, semua kenangan tetap menjangkar, hanya saja karena terlipat dengan kenangan-kenangan lainnya, menjadi terlupakan.
Menarik sekali alur dalam film berjudul “Rememory”. Diceritakan ada seorang ilmuwan bernama Gordon Dunn (GD), berhasil menciptakan sebuah alat canggih. Alat tersebut bisa digunakan untuk mengingat kembali semua kenangan, baik yang sudah terlupakan, dan sengaja dilupakan, baik kenangan yang menyakitkan, dan yang indah dan membahagiakan.
Semua kenangan-kenangan yang dialami manusia disebut “memori”. Dalam diri manusia mempunya alat perekam alami yang merekam setiap kejadian baik yang disadari dan yang tidak disadari oleh pikirannya. Alat perekam canggih tersebut diberi nama “korteks”. Dalam istilah pengetahuan keotakan dinamakan “korteks serebral”, juga dikenal sebagai korteks utama, atau bagian dari otak yang menangani apa yang disebut “pikiran yang lebih tinggi”. Semua makhluk hidup mempunyai korteks, tapi milik manusia paling maksimal dan tercanggih.
Alat yang diciptakan oleh GD ini, tentu ada positif-negatifnya. Khususnya bagi seseorang yang tidak tahan ketika kenangan pahitnya dimunculkan kembali, yang bersangkutan akan mengalami rasa traumatik yang lebih dahsat saat kejadian. Dari uji coba alat ini, ada yang depresi, bahkan ada yang bunuh diri. Untuk menanggulangi goncangan psikis, GD mengajukan “fokus”. Seseorang harus fokus pada “saat ini”, agar bisa melepaskan kenangan-kenangan pahit di masa lalunya.
Pada sesi uji coba, semua klien diminta untuk mengingat semua kenangan. Yang terakhir diminta untuk diingat adalah kenangan-kenangan indah dan membahagiakan. Dan dari sekian kenangan-kenangan tersebut, kenangan indah dan membahagiakan klienlah yang terkuat, dan membuat kenangan yang lain terhapus dengan sendirinya.
Kalau dilihat dari alurnya, dan dihubungkan dengan dunia hipnoterapi klinis. Subtansi film mengarah pada pemanfaatan kesadaran “kini dan di sini” untuk mengobati sakit yang disebabkan “loro pikir”/banyak pikiran. Kesadaran “kini dan di sini” merupakan “jalan ke dalam” setelah seseorang berusaha mencari “jalan ke luar” ternyata tidak menemukan kesembuhan.
Banyak kejadian yang menyebabkan orang sembuh dari sakitnya, setelah melakukan penerimaan atas sakitnya, menertawakan sakitnya, dan menyambut kematiannya dengan suka cita. Saat seperti itu, ia lupa dengan sakitnya. Dan ternyata, saat ia lupa dengan sakitnya justru mendapatkan kesembuhan.
Ini merupakan keajaiban menemukan “jalan ke dalam”. Mungkin karena terombang ambing dengan rencana masa depan dan ketakutan atas masa lalunya, menyebabkan seseorang menjadi “loro pikir”/banyak pikiran dan mengakibatkan mentalnya rapuh hingga fisiknya juga rapuh/sakit-sakitan. Maka, dengan menyadari “kini dan di sini” pikirannya bisa fokus dengan sesuatu yang nyata dilakukan dan dipunyai saat ini, serta mensyukurinya. Saat terbiasa, maka akan menjadi luar biasa. Saat menjadi luar biasa, semua yang dilakukan sebelumnya tidak bisa menjadi bisa. Wallahu a’lam bi Al-shawaab
Penulis: Muniri Faqod, S.Hi, M.Hi

