Kalau ada orang menyangkal keberadaan Neraka, tapi menginginkan Surga. Dapat dipastikan orang ini meyakini adanya Neraka, tapi takut masuk Neraka.
Karena dorongan rasa takutnya, ia menyangkal adanya Neraka. Padahal Neraka nyata ada. Hanya saja, pembuktian adanya harus melalui kematian. Setelah membuktikan melalui kematian, ia sadar tak bisa berkirim pesan ke orang yang masih hidup, untuk menceritakan bahwa Neraka memang ada.
Padahal tidak harus menunggu kematian untuk membuktikan adanya Neraka. Hanya cukup percaya saja. Untuk percaya inilah membutuhkan sikap tawadhu’. Dan sikap tawadhu’ bergantung kondisi hati.
Jika hati seseorang dipenuhi prasangka jelek, sombong, iri, dan dengki. Maka, akan sulit sekali mempercayai kebenaran atas sesuatu yang butuh pembuktian empirik, walaupun itu sebenarnya memang ‘ada’.
Ada teman yang tidak mempercayai adanya Covid-19. Ia menganggap itu permainan politik, itu akal-akalan tenaga kesehatan yang meraup untung dari isu Covid-19, itu tidak seheboh yang diberitakan media, itu konspirasi Wahyudi (eh Yahudi), itu konspirasi China, Allah yang menakdirkan hidup-mati seseorang dan lain-lain.
Kemudian, saking jengkelnya teman yang lain. Mendo’akannya; semoga kena Covid-19. Dengan sigap, ia merespon; na’udzubillahi min dzalik.
Dari respon teman ini, sangat jelas bahwa ia mempercayai Covid-19 itu nyata ada, tapi ia terus menerus menyangkalnya.
Itu kenapa? Karena ia sedang mengamankan rasa takutnya yang jauh di kedalaman dirinya agar tidak terpantik oleh informasi-informasi yang menakutkan. Ia berasumsi dengan menyangkal adanya Covid-19, ia merasa aman.
Terus bagaimana seharusnya? Mempercayai Covid-19 itu ada, karena memang banyak buktinya. Urusan pemberitaan yang terlalu berlebihan, adanya nakes yang tidak amanah, dan yang mati tidak semua karena Covid-19. Itu membutuhkan kemampuan kita dalam menyaring informasi dan mengatur diri agar tetap dalam kondisi stabil secara mental.
Kan tidak semuanya orang mempunyai kemampuan menyaring informasi dan mengatur diri agar tetap dalam kondisi stabil secara mental? Nah, inilah kondisi kita saat. Saling percaya memudar antara satu sama lain. Kesalingan ini perlu kita bangun lagi, kalau tidak ingin berujung pada nestapa. Semua pihak harus membangun kesalingan ini. Tidak pandang bulu. Tade’ tongka’ tade’ deih (tidak peduli siapa orangnya) harus membangun kesalingan ini.
Segera terwujud! Aaamiiin
** Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

