Merantau: Mangkat Bungkol, Molé Bungkol

Orang Madura hingga saat ini masih melestarikan tradisi “merantau”. Merantau menjadi pilihan strategis, dengan pertimbangan kondisi ekonomi, budaya, religi, politik, dan sosial yang tidak berpihak untuk kelangsungan hidupnya. Mempertimbangkan hal tersebut, dengan berat hati perantau meninggalkan orang tua, sanak saudara, dan handai taulan ke salah satu kota di Indonesia, bahkan ke luar negeri.

Sebenarnya merantau bukan hanya tradisi orang Madura saja. Ada beberapa suku yang mempunyai kebiasaan merantau. Tentunya dengan berbagai faktor yang disebutkan di atas. Tapi kebanyakan, masalah ekonomi yang menjadi pemicu seseorang memutuskan merantau, selain pertimbangan itu, biasanya hanya uji nyali sebagai bentuk keberanian diri.

Ada banyak catatan mengenai merantau, yang ternyata banyak manfaatnya. Dengan merantau, bisa mengetahui dunia luar yang juga menyenangkan dan penuh tantangan. Ternyata ada kultur yang berbeda dengan tempat asal kita. Dengan perbedaan itu, kita bisa menerima dan mendialogkannya, agar tidak menjadi orang “kuper” (kurang pergaulan).

Merantau akan mempertemukan kita dengan orang-orang baru yang dapat kita pilah dan pilih untuk dijadikan teman. Di tempat asal, kita bisa secara gampang memahami sifat dan prilaku teman karena seringnya bertemu dan melihat dari prilaku keluarganya. Tapi, di tempat rantau tidak demikian, yang dihadapi adalah orang-orang baru dengan sifat dan prilaku yang sama sekali tidak diketahui dengan baik. Maka, ditempat rantau perlu kejelian menilai orang yang akan dijadikan teman

Mungkin dengan pertimbangan jauh dari keluarga dan benar-benar tidak punya satupun kenalan, maka kita ditempat rantau harus mengatur keuangan dengan baik. Menghemat dan menyesuaikan pemasukan dan pengeluaran. Hal ini akan melatih kita menjadi pribadi yang pandai dalam mengatur keuangan.

Dengan merantau, kita ibaratkan seorang yang sedang berada di hutan tanpa perlengkapan senjata. Hanya tangan, kaki, dan otak yang menjadi senjata pamungkas. Di dalam hutan dengan sejumlah hewan buas, menuntut kita harus selalu siap dan waspada. Setelah kita terbiasa dengan kesiapan dan kewaspadaan, maka disitulah penentu pribadi kita akan menjadi lebih baik atau malah sebaliknya.

Yang terakhir, barangkali ini yang terpenting. Selalu ingat orang tua kita. Asal kita. Cita-cita kita. Dan tujuan kita merantau. Ada pengharapan dari orang tua untuk kita kembali ke rumah dengan utuh. Memang semua orang tua, akan bangga dengan tercapainya cita-cita dan tujuan merantaunya kita, tapi akan percuma jika kita tidak pulang-pulang. Capaian kita di tempat rantau sama sekali tak berguna dalam takaran rindu orang tua kepada anak-anaknya.

Keinginan orang tua kepada kita yang di perantaun adalah mangkat bungkol, molé bungkol (berangkat dengan utuh jiwa-raga, pulangnyapun demikian). Keinginan orang tua agar kita pulang, hanya ingin memastikan keadaan jiwa-raga kita, hanya itu. Selanjutnya, kita pasti dibolehkan kembali ke perantauan. Wallahu a’lam bi Al-shawaab

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini