Merenungi Ciptaan Yang Nyaris Tak Terlihat

Oleh: Muniri Faqod, S.HI, M.HI

Tak Terlihat, Terlihat, dan Tentang Ada

Berbicara tentang konsep “yang ada”, secara tidak langsung kita akan dihantarkan pada kajian filsafat ontologi. Perdebatan panjang hakikat keberadaan, apakah yang ada adalah yang memenuhi syarat terikat pada ruang dan waktu, bisa diukur, dihitung, dan diamati.

Bagi filosof materialisme, alam spiritual atau jiwa, dan semua hal yang tidak melekat pada ruang dan waktu tidak bisa disebut yang ada. Sebaliknya filosof idealisme, berpendapat bahwa yang ada merupakan sesuatu yang subtansi layaknya gagasan-gagasan atau ide-ide. Yang ada secara fisik, hakikatnya berasal dari jiwa universal atau roh absolut. Alam semesta beserta turunannya takkan ada, kalau tidak didahului adanya jiwa universal atau roh absolut ini.

Memahami Ada dalam Tinjauan Fisika Klasik dan Quantum

Perdebatan tentang “yang ada” sama-sama mempunyai dasar argumentasi yang sama-sama kuat, dalam buku ini saya menghindari perdebatan filsafat tersebut, saya  mencoba menghadirkan kajian tentang “yang ada” menurut fisika quantum.

Dalam dunia fisika terdapat dua pandangan, yaitu fisika klasik (Newtonian), dan fisika modern (fisika quantum). Ada perbedaan mendasar pada dua pandangan ini, khususnya pada titik konsentrasi.

Jika fisika klasik konsentrasi pikirannya kepada benda yang bisa di lihat sehari-hari, sedangkan fisika quantum fokus observasinya pada benda-benda yang sangat kecil, saking kecilnya, objek yang diobservasi tidak dapat dilihat oleh mata langsung.

Dari sekian penelitian yang dilakukan, ada fenomena menarik yang meruntuhkan temuan fakta ilmuan fisika sebelumnya, ternyata segala yang ada di dunia bukan berasal dari benda padat, melainkan dari ruang hampa, berupa energi yang tidak tampak, dan mempunyai getaran.

Kehadiran fisika quantum ini, memberikan cara pandang baru namun bukan berarti menggeser peran fisika klasik dianggap usang dan tidak berguna. Fisika klasik masih berguna untuk menjelaskan benda-benda yang besar dan masih bisa dilihat dengan mata langsung. Berbeda dengan fisika quantum yang kehadirannya untuk menjelaskan keadaan-keadaan benda yang sangat kecil, dan untuk melihatnya membutuhkan alat pembesar, yaitu subatomik yang sangat kecil.

Fisika quantum mengkaji “yang ada” di alam semesta, dan bagaimana keseluruhannya bisa mewujud sebagai kenyataan. Yang ada tapi seolah tidak ada ini (quanta), merupakan bahan dasar semua benda, baik benda hidup maupun benda mati.

Quanta menjadi semacam konduktor berupa kecerdasan dan kesadaran yang hidup dalam semua benda. Kalau diurai, semua benda yang ada di alam semesta merupakan kumpulan molekul. Sedangkan molekul sendiri merupakan kumpulan semua atom dan partikelnya. Partikel subatomik berasal dari alam vibrasi quanta yang tidak terlihat tapi getarannya konsinten dan cepat.

Semua yang di Bumi dan Langit Bertasbih

Fenomena quantum ini, jika dilihat dari karakteristiknya sebagai energi yang senantiasa memunculkan getaran, seolah ada kesesuaian dengan ungkapan dalam beberapa ayat Alquran bahwa “semua yang di langit dan di bumi semuanya bertasbih”, sangat dimungkinkan maksud sebenarnya dari “bergetar” adalah “bertasbih” dalam bahasa Alquran, atau sebaliknya. Berikut ayat-ayat Alquran yang secara implisit bisa dihubungkan dengan kajian getaran energi quantum.

QS. al-Israa’ (17): 44

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

QS. al-Hadid (57): 1

Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

QS. al-Hasyr (59): 1

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, yang Maha Suci, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

QS. al-Jumu’ah (62): 1

Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS. at-Taghaabun (64): 1

Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.

QS. an-Nuur (24): 41

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) Para Malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan yang Maha keras siksa-Nya.

QS. ar-Ra’d (13): 13

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

QS. az-Zumar (40): 75

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

Ayat-ayat yang memuat keterangan bertasbihnya semua yang di langit dan di bumi, seolah-olah menghantarkan imajinasi kita, untuk mengkaji apa maksud kalimat bertasbih dalam ayat tersebut, bisa jadi tidak hanya untuk membuktikan ketundukan kepada ke-Maha Kuasa-an Allah saja, melainkan juga ada subtansi pengetahuan yang perlu dikaji secara mendalam tentang keberadaan alam semesta, mungkin saja tentang realitas quantum ini.

Bukti Keseriusan Penciptaan

Penegasan Allah bahwa penciptaan langit dan bumi tidak main-main, tersirat anjuran agar manusia perlu menyadari “yang tak kelihatan”, karena dari yang dianggap tiada itulah yang ada bisa ada. Hal ini ditegaskan dalam suarat ad-Dukhkhan ayat 38;

 “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main”. (QS. ad-Dukhkhan (44): 38)

Allah menjelaskan bahwa langit dan bumi beserta segala isinya tidaklah diciptakan dengan sia-sia atau secara kebetulan tanpa maksud dan tujuan, tetapi semuanya itu diciptakan sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.

Apabila diperhatikan dengan seksama setiap kehidupan yang ada di bumi dan segala kejadian di langit tentulah akan diketahui baik makhluk yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa dari berbagai macam tingkatan, dari tingkat terendah sampai dengan tingkat yang tertinggi, masing-masing faedahnya, ada ketentuan-ketentuan yang berlaku baginya, dan ada pula waktu yang ditentukan untuk kehidupannya.

Setelah memahami setiap entitas di level quantum, segalanya bertasybih, maka sepantasnya manusia memberikan penghormatan kepada semua ciptaan, walaupun berupa bakteri, binatang yang halus dan kecil, dan juga cacing seakan-akan tidak ada gunanya sama sekali. Jika diperhatikan maka bakteri dan cacing itu memakan sampah dan kotoran, baik yang berasal dari manusia maupun yang berasal dari makhluk yang lain. Jika bakteri dan cacing itu tidak ada, maka sampah dan kotoran akan menumpuk karena tidak akan membusuk sehingga terjadilah polusi yang membahayakan kehidupan manusia.

Semakin dalam direnungkan dan diperhatikan alam dan kejadiannya ini, semakin dalam diketahui hikmah, guna dan tujuan penciptaannya; semakin terasa pula kasih sayang dan tujuan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Hanya kebanyakan manusia tidak tahu diri dan merasa dirinya yang paling kuasa dan yang paling mampu.

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini