Sirkuit Mandalika diguyur hujan, Pawang hujan beraksi, hujanpun mereda. Lomba balap Motor GP sebelumnya tertunda lantas dilanjutkan.
Aksi Pawang hujan rupanya menuai teriakan, cibiran dan gelak tawa. Tidak hanya orang se Sirkuit Mandalika, tapi se-dunia.
Bagi Penulis, Rara Isti Wulandari (Sang Pawang) ini luar biasa. Ia berani menjadi tontonan, tentu iapun menyadari akan dicibir dan ditertawakan banyak orang.
Tapi Rara Isti Wulandari tetap beraksi. Ube rambenya lengkap, dan ia keliling sirkuit Mandalika dengan membawa Singing Bowl sambil tangannya bergerak-gerak seolah menghalau hujan. Tentu ia percaya aksinya akan berhasil menghalau hujan, walaupun sebagian besar orang tidak percaya.
Orang yang tidak percaya efek dari aksi Pawang hujan beralasan karena hujan mereda setelah 45 menit pasca aksi Si Pawang hujan. Mestinya, tidak sampai selama itu, bisa saja karena hujan sudah waktunya berhenti.
Ada juga yang mengatakan “hari begini masih percaya Pawang hujan?”. Nah bagi yang mempertanyakan eksistensi dan efektifitas Pawang hujan, silakan ke pelosok desa. Orang pelosok desa saat menggelar hajatan di musim hujan, pasti tidak jauh dengan aksi Pawang hujan, tapi tentu tidak se kolosal aksi Pawang hujan di mandalika.
Orang pelosok desa biasa menggunakan jasa Pawang hujan. Medianya beda-beda. Ada yang memakai bawang merah dan cabe merah besar yang ditusuk dengan lidi, biasanya ditancapkan di sekitaran lokasi hajatan.
Ada juga yang memakai media membalik “Saka’an” (Alat bajak sawah), membalik sapu lidi yang diletakkan di tengah halaman rumah, ada yang membuat bara di sekitar lokasi hajatan dan menaburinya dengan gula, ada yang memakai media pusaka yang diletakkan di atas terop. Cara ini tergolong tidak ekstrim.
Ada yang ekstrim. Disebut ekstrim karena harus mengorbankan hewan. Yaitu dengan menggunakan Katak sebagai media. Katak tersebut diikat lehernya dengan benang, lalu talinya diikatkan ke kayu yang ditancapkan ke tanah. Setelah itu, Si Pawang berkata begini; “Hai Katak, Mintakan ke Allah agar tidak hujan dalam beberapa hari (ditentukan berapa harinya), jika tetap hujan, kamu tidak akan dilepas”.
Cara ekstrim kedua, biasaya dilakukan dengan menggunakan media memendam Kucing, katanya sampai berakibat Kucingnya mati. Ngeri bangetz kalau yang ini gaees!
Apakah itu pasti efektif menghalau hujan? Pasti efektif tidaknya tentu tidak bisa mutlakkan. Tapi sejauh ini, jasa Pawang hujan tetap ada sampai sekarang. Artinya banyak juga efektifnya. Penulis dulu, juga pernah menjadi Pawang hujan lho…haha. Tentu sudah tau mengukur efektifitas Pawang dalam menghalau hujan.
Dalam tulisan ini, Penulis ingin mengomentari “penanggap” yang mengatakan “hari ini masih percaya Pawang hujan”.
Kepada Penanggap itu, Penulis mau katakan; “Ente belum jauh belajarnya Bro”.
Kalau dengan alasan pengetahuan Anda mencibir Pawang hujan, mungkin Anda belajarnya berhenti di pengetahuan saintifik dan filsafat saja. Yang Saintifik memakai metode empirik, sedangkan filsafat memakai metode rasional.
Dua pengetahuan tersebut, efek dari melaksanakan perintah “iqra’ (Bacalah)”. Sejauh perjalanan peradaban dan kebudayaan, saintifik dan filsafat juga tidak lepas dari tebak-tebakan juga, alias tidak mutlak benar dan pasti berhasil. Untuk mengisi ruang kosong ketidakpastian pengetahuan saintifik dan filsafat, sebenarnya ada “Pengetahuan Suprarasional”, yaitu Mistik.
Mistik memakai metode suprarasional, objeknya sesuatu yang ghaib-tidak terindra, syaratnya cukup dengan “yakin/percaya” agar efektif.
Bagaimana untuk mengukur keberhasilan dengan berbasis hukum kausalitas? Nah, Penulis perlu menyampaikan dua macam kausalitas, yaitu mekanik dan quantum.
Untuk kausalitas mekanik, yang menjadi rangkaian kausalnya tidak ghaib. Artinya bisa diamati dengan panca indra langsung dan bisa dinalar. Sedangkan kausalitas quantum berbeda. Indra tidak bisa mengamatinya walupun dengan bantuan alat canggih apapun dan nalarpun tidak bisa menemukan kohesi dan koherensinya.
Demikian dengan aksi Pawang hujan tidak bisa dijelaskan memakai hukum kausalitas mekanik. Aksi dan efeknya tidak bisa ditemukan kohesi dan koherensinya. Loh kok beneran berhenti hujannya!
Kurang lebih sama dengan Anda yang berdo’a ingin bertemu jodoh, lantas bertemu tiba-tiba dengan seseorang dan ‘loh kok klik di hati’.
Simak kausalitas quantum yang tergambarkan dalam dialog romantis di film “Dil To Pagal Hai”.
- Dia menciptakan kita saling berpasangan, dan setiap orang memiliki belahan jiwanya.
- Belahan jiwa? Omong kosong! Aku tidak percaya dengan semua ini. Aku sangat yakin. Di suatu tempat, seseorang telah tercipta untukku, dan suatu hari, aku pasti akan menemukannya.
- Oke, tapi bisakah seseorang memberitahuku bagaimana aku bisa tahu siapa orang yang tercipta untukku? Maksudku, apakah dia akan memegang plakat yang bertuliskan namaku?. Ketika aku melihatnya, akankah ada guruh yang menggelegar atau kilat yang menyambar? Apa? Bagaimana aku bisa mengenalinya?
- Aku tidak tahu dengan yang lain, tapi aku pasti akan mengenali dialah orangnya. Tuhan akan memberitahuku. Dia akan memberiku tanda, dan hatiku akan tahu dialah orangnya.
*** Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

