Peringatan Isra’ Mi’raj dan Peningkatan Kesadaran Spiritual Mahasiswa

Umat Islam mempunyai rutinitas memperingati Isra’ Mi’raj. Sebuah peristiwa spiritual yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Memperingatinya, agar kita selalu mengingat hasil dari peristiwa ini, yakni shalat lima waktu.

Shalat lima waktu bisa dikatakan sebagai buah dari audiensi Nabi Muhammad kepada Allah SWT saat Isra’ Mi’raj. Gunanya sebagai wahana menuju kesempurnaan spiritual yang dampaknya positif terhadap prilaku kita sehari-hari. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Ankabut ayat 45, bahwa “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”.

Isra’ Mi’raj di pesantren (kalangan santri) merupakan rutinitas yang sering diadakan pada 27 Rajab ( 11 Maret 2021 ). Isi ceramah, biasanya tentang terjadi nya isra’ mi’raj dan  amanat untuk Nabi Muhammad yang harus disampaikan kepada umatnya, berupa kewajiban shalat lima waktu sehari-semalam.

Tetapi, saat sudah menjadi mahasiswa, masihkah ikut serta merayakan isra’ mi’raj? Jawabannya mungkin iya, mungkin tidak. Tetap merayakan, bisa menganggap nilai-nilai yang disampaikan oleh penceramah dalam isra’ mi’raj sangat penting, atau bisa jadi mempertimbangkan kebersamaan sosial dalam ikatan ritual keagamaan. Yang tidak merayakan, mungkin saja menganggap rutinitas perayaan ini sudah tidak berguna atau karena nilai-nilai yang disampaikan terlampaui metafisis (absen rasionalisasi).

Dibandingkan dengan yang tidak merayakan, tentu lebih baik yang merayakan walaupun hanya sekedar kepentingan kebersamaan sosial. Lebih-lebih yang tidak tau sama sekali tentang isra’ mi’raj. Sekurang-kurangnya, menurut penulis isra’ mi’raj sangat berguna untuk mengingat kembali pentingnya shalat lima waktu dan meluruskan kembali yang melenceng agar ter-upgrade hingga terpelihara dan senantiasa terjaga moralitas mahasiswa sebagai aset bangsa.

Mengetahui peristiwa isra’ mi’raj sebenarnya kita telah mengetahui epistemologi (asal-usul) shalat lima waktu. Demikian juga kita tahu aksiologi (manfaat/guna) shalat lima waktu. Setelah mengerjakannya, kita akan tahu efek shalat pada menguatnya nalar kemanusiaan pada diri kita, bahwa ternyata shalat dapat memalingkan kita dari perbuatan keji dan munkar.

Seperti yang kita tahu, konsepsi Islam selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai contoh kecil, setiap surah dalam Al-Qur’an selalu dimulai dengan “bismillahirrahmanirrahim”. Ada dua nama Allah yang disebut, yakni Al-Rahman dan Al-Rahim. Bukankah ini penegasan bahwa kita harus mengedepankan cinta-kasih dalam kehidupan?

Mestinya, bisa dipahami bahwa lahir-batin perilaku kita dalam rangka mewujudkan cinta-kasih atas sesama. Tuhan menyukai orang yang mengedepankan cinta-kasih ini. Dalam hadits dijelaskan; “sayangilah setiap orang di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu”.

Pentingnya cinta-kasih dalam kehidupan bersama ini, seolah menjelaskan bahwa di balik kemanusiaan ada keilahian, sementara di balik keilahian ada kemanusiaan. Dengan meyakini ini, tentu semua orang akan bisa mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bersama.

Inilah yang barangkali disebut visi ketuhanan dan kemanusiaan dalam satu kesatuan. Sedianya, meresap dalam batin setiap individu hingga menjelma dalam bentuk perilaku kehidupan sehari-hari. Kiranya benar apa yang dikatakan W.M. Dixon dalam bukunya, The Human Situation (1990), bahwa agama merupakan dasar yang kuat bagi moral.

Kalau untuk mengakarkan perbuatan baik dengan melakukan shalat lima waktu, maka shalatlah sahabat, karena shalat tidak hanya tiang agama, melainkan juga tiang kedirian kita. Wallahu a’lamu bi Al-shawaab

*Penulis: Ferdiansyah (Kader Pinggiran PMII Universitas Trunojoyo Madura)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini