PERMAINAN CATUR DAN CARA MEMENANGI KEHIDUPAN

Masyarakat dimana kita berada, sering memunculkan celetukan; “hidup adalah permainan”. Celetukan ini, biasanya dimunculkan dengan nada guyon, untuk menertawakan kehidupan yang dirasa sangat lucu.  

Bisa menertawakan hidup, membutuhkan kemampuan yang tidak biasa. Sepertinya, hanya bisa dilakukan oleh orang yang cara pandang hidupnya mengalami perubahan mendasar. Kurang lebih sama dengan pemain catur (baca: pecatur), yang menganggap permainan catur hanyalah permainan. Tentu, dengan menganggap permainan hanyalah permainan belaka, pecatur tidak melekat pada keinginan untuk menang, maupun takut akan kalah.

Sebagaimana dalam permainan catur kelas advance, yang dipertandingkan bukan lagi tentang langkah cantik semata, melainkan tentang adu kecerdasan, kecermatan, fokus, dan keberuntungan. Jika semuanya sama-sama dimiliki oleh pecatur yang sedang bertanding, maka yang diadu selanjutnya adalah “keajegan”.

Keajegan berasal dari kata Sunda, asal kata “ajeg”, yang artinya tegak, tidak roboh, tetap pendiriannya. Pecatur yang ajeg, cendrung tak terpengaruh dengan gaya main lawannya, ia setia dengan gayanya sendiri, dan tak terpengaruh oleh keadaan ruang dan waktu, iapun tetap tenang dan jauh dari panik. Gaya bermain seperti ini, selalu siap menang dan kalah. Dan tak malu mengakui kedigdayaan lawannya.

Ulasan singkat permainan catur ini, merupakan sebuah gambaran yang kurang lebih sama dengan cara “memenangi kehidupan”. Sebagaimana tentang permainan catur, kehidupan juga sebuah permainan. Dan bagi yang merasa menjalani hidup, harus menyadari sepenuhnya bahwa hidup adalah sebuah permainan.

Konsekwensi logis, dari anggapan hidup adalah sebuah permainan. Seolah kita sedang  disuguhkan peran, yang memilihnya menjadi fardhu ’ain, sudah barang tentu pertimbangan logis kita akan memilih karakter yang sesuai dengan kepribadian kita. Setelah itu, kita bermain sesuai dengan karakter yang dipilih.

Lambat laun, tanpa disadari kita larut dalam permainan dan melekat dengan karakter yang justru dipilih hanya untuk turut serta dalam sebuah permainan. Kita mengalami kelupaan, lupa diri, dan lupa siapa diri kita sebenarnya. Bahkan lupa, bahwa kita sedang berada dalam sebuah permainan. Celakanya, kita merasa bahwa diri kita sama dengan karakter yang sedang kita mainkan. Dan menganggap segala yang berlangsung adalah sebuah “kebetulan atau nasib”.

Sebenarnya, ketika mengalami kelupaan, kita perlu tidur. Saat tidur itulah, sebenarnya kita bisa memilih peran yang sama sekali beda dengan karakter yang dipilih sebelum tertidur. Tapi, ternyata kita justru memilih melanjutkan peran sesuai karakter yang dipilih sebelumnya, karena menganggap ruang mimpi, hanyalah suatu “mimpi” saja, yang tidak nyata.

Dalam hal permainan, kita kadang lupa menengok kebelakang, yang ternyata orang-orang terdahulu sudah memainkan permainan ini. Bahkan sudah banyak yang menemukan pencipta permainan ini, yang kemudian kita menyebutnya “Sutradara Kehidupan”. Sudah barang tentu, sutradara ini, jauh lebih pandai dari kita, hingga akhirnya kita memujanya penuh hikmat. Akhirnya, banyak yang merasa sudah mengenalnya, dan bahkan ada yang merasa mendapatkan metode untuk lebih mengenal Sang Sutradara tersebut.

Lahirlah kemudian, bermacam metode untuk mengenal Sang sutradara, yang pada hakikatnya ibarat orang buta yang diminta untuk mendiskripsikan bagaimana wujud Gajah, yang memegang buntuknya, ia beranggapan bahwa Gajah badannya panjang, yang memegang Gadingnya, beranggapan gajah ini keras badannya, yang memegang perutnya, beranggapan bahwa Gajah bulat, dan seterusnya. Orang buta ini, ada yang bersikukuh bahwa metodenya yang paling benar, sementara yang lain salah. Namun, ada yang beranggapan bahwa itu hanyalah “metode”, kebenarannya seturut dengan kenyamanan bagi pemakainya.

Yang perlu digaris bawahi, bahwa permainan hanyalah permainan, untuk turut serta dalam permainan tersebut, tentu kita perlu mempelajari sebuah prinsip yang berguna mempermudah kita dalam bermain, salah satunya memahami tentang “hukum kekekalan energi”.

Memahami Energi; Sebuah Cara Bermain

Salah satu prinsip yang harus kita pahami dalam permainan, adalah hukum kekekalan energi. Dalam ilmu fisika dinyatakan, bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak juga bisa dihancurkan. Ia kekal sifatnya, namun senantiasa berubah dan bergerak. Ia dapat menjadi apa saja, dan merupakan sumber dari segalanya, karena sifat-sifat itulah energi berkuasa.

Semua manusia mendapatkan energi ini, tanpa batas dan diberi kebebasan memakai energi tersebut sesuai keinginannya. Ibarat kita mendapatkan modal, yang bisa dibelanjakan sepuas hati, atau diinvestasikan, dan tak pernah habis. Modal ini berhenti ketika kita mau “sekarat”. Untuk melanjutkan permainan, kita hanya bisa menggunakan investasi kita sebelumnya.

Melalui pemahaman maksimal terhadapa hukum ini, dapat mempermudah kita untuk memakai energi tanpa batas, karena energi ini, selalu ada, karena merupakan proses daur ulang dari bahan lainnya. Karena sifatnya yang spiritual, maka tak terbatas cakupan dan ukurannya. Ia kreatif dan menarik, dan hanya merupakan media untuk bermain saja. Ia tidak memiliki makna atau karakteristik di luar yang kita maksudkan. 

Dalam diri kita, ada pikiran dan emosi. Keduanya merupakan manifestasi energi, dan hanya mempunyai arti sesuai dengan yang kita berikan. Ketika kita merasa takut, sebenarnya rasa takut itu sama reaksinya dengan ketika kita merasa berani. Rasa takut dan berani hanya hasil pemaknaan rasa hati kita terhadap sesuatu, yang sebenarnya tidak ada, yang ada hanya rasa hati, itu saja.

Secara bahasa, emosi berasal dari E (energi) dan motion (bergerak), artinya energi yang bergerak. Dengan demikian keseluruhan emosi, perasaan, dan segenap aksi yang kita lakukan adalah energi yang bergerak. Hanya butuh intensitas, agar energi yang bergerak berubah menjadi realitas materiel. 

Kalau dipetakan secara sederhana, pada diri manusia terdapat dua arus gerakan utama energi yang bersifat langsung, yaitu “kasih dan takut”. Bagi pemain kehidupan, hal ini bisa ditentukan disesuaikan dengan karakter yang dipilih dalam kehidupan itu sendiri. Sebagaimana sebuah pilihan, maka di dalamnya ada resikonya. Jika memilih di arus energi kasih, yang terjadi kasih meluap tanpa batas, kelimpahan, pemenuhan, kebahagiaan. Jika sebaliknya, keluarannya berupa rasa takut, seperti pembatasan, kekurangan, ketidak bahagiaan, dan seterusnya.

Pemain kehidupan yang baik, cendrung memenangkan kehidupan,  dan pastinya menguasai dengan baik dua arus energi ini, dan digunakannya pada waktu yang tepat. Syaratnya, hanya berkonsentrasi pada dua hal itu saja, kasih atau takut. Masing-masing pilihan membawa implikasi yang berbeda. Rahasianya, jika kita memilih energi kasih, maka rasa benci dan takut hilang. Demikian juga, jika memilih energi takut, maka rasa kasih hilang. Keduanya, merupakan energi yang sama, yang satunya beroperasi yang lainnya tidak bekerja. Dan hanya bergerak pada satu arah, tidak dapat bergerak sekaligus kedua arah yang berbeda.

Implikasi dua arus energi tersebut dalam kehidupan, dapat digambarkan seperti ini. Misalkan, ada orang yang sedang sekarat karena tabrak lari, begitu kita melihatnya spontan kita bergegas membantunya tanpa ada rasa takut, dibawa ke rumah sakit, dan kita juga menyumbangkan darah, karena banyak kehabisan darah, sementara kita tak mengenal orang tersebut, maka yang kita lakukan merupakan wujud pemanfaatan arus energi kasih. Sebagaimana dijelaskan di atas, jika energi kasih memuncak, energi takut menghilang, demikian sebaliknya.

Sedangkan ilustrasi, dari arus energi takut dipraktekkan oleh rata-rata politisi negri ini. Kecendrungan berebut, meniadakan peran yang lain, dan bahkan menghabisi nyawa lawan sekalipun, menjadi salah satu ciri dari implikasi digunakannya energi takut.

Demikian ilustrasi energi kasih dan takut, yang sejatinya kita tidak sedang membicarakan baik-buruk dari sebuah tindakan, melainkan sejauh mana kita siap dengan konsekwensi atas apa yang kita perbuat. Dan tentunya, hal itu dilakukan agar kita dapat membuat diri kita berkuasa dengan memahami cara bermain dalam permainan energi sehingga kita bisa bermain sepenuhnya dalam kehidupan, agar kehidupan di masa depan lebih baik dari sebelumnya.

Dari ulasan tentang hukum kekekalan energi ini, jika dihubungkan dengan permainan catur, yang selalu tampil sebagai pemenang dalam permainan catur adalah yang lebih “ajeg”. Hal ini, dikarenakan bahwa orang yang ajeg mempunyai nilai lebih. Utamanya ketika memilih langkah bidak caturnya, didukung dengan kecerdasan, kecermatan, fokus, dan keberuntungan yang dimilikinya, akan menjadi kekuatan yang sulit ditandingi. Sekali memilih langkah, pantang mundur, dan pantang meralat. Setiap langkah disadari membawa resiko, salah-benar, dan kalah-menang. Ia begitu terbuka pada semua hal dari konsekwensi sebuah permainan.

Dengan sikap terbuka seperti ini, dapat dipastikan bahwa pecatur yang ajeg, cendrung mantap dan tak pernah ragu dalam menentukan pilihan, karena keraguan bisa menjadi pintu masuk kekalahan. Dan kalaupun kalah, kekalahan tak membuatnya patah semangat. Sebagaimana analogi memilih dua kutub kasih dan takut yang dijelaskan di atas, pecatur yang ajeg memilih salah satu kutub energi tanpa ragu.

Seperti halnya dalam hidup, bagi yang ingin memenangkan kehidupan, bekerjalah dengan cerdas, cermat, fokus, dan percaya bahwa keberuntungan itu ada. Tapi, perlu diingat bahwa semua itu, tak akan bisa maksimal jika tanpa sikap ajeg. Silahkan amati orang yang menjadi trend setter, nyaris tak ada dari mereka yang peragu dalam bersikap, rata-rata mereka ajeg. Itulah mengapa mereka, selalu tampil memenangkan kehidupan. Wallahu a’lamu bi al-shawaab.

*Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun)

*NB: Sebagian besar bahasan dalam tulisan ini diambil dari penjelasan draft pelatihan pemberdayaan diri yang diikuti oleh penulis, dari sumber yang rahasia.  

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini