Pesulap Merah dan Era Post Truth

Oleh: Muniri Faqod

Minggu terakhir, jagat media dibuat gaduh oleh sepak terjang Pesulap Merah. Nama aslinya Marcel Radhival, pemuda kelahiran Tangeran, 26 Agustus 1996. Artinya saat ini, dia masih berumur 26 tahun.

Cukup muda umurnya. Walaupun demikian, keberanian dalam membongkar sisi penipuan praktek perdukunan dan kesaktian perlu diacungi empat jempol sekaligus.

Penulis belum menonton keseluruhan atraksi Pesulap Merah di video youtubenya, hanya menonton beberapa saja. Ada dua video yang Penulis tonton penuh, yaitu atraksi adu kesaktian Pesulap Merap dengan Ujang Bustomi dan Perguruan Bela Diri Perisai Batin.

Pesulap Merah dan di kediaman Ujang Bustomi

Menonton dua video tersebut dengan seksama, banyak edukasi tentang dunia kesaktian yang sebenarnya hanya trik saja, bukan bersifat adikodrati langsung. Maksudnya, bukan karena seseorang dalam waktu itu juga dapat meminta langsung kepada Sang Pemilik Kekuatan, dan Kun Fayakun! Atau Terjadilah Kehendaknya!

Menurut mereka sungguh tidak demikian adanya! Itu hanya trik belaka. Siapapun bisa mempelajarinya, jika mau.

Ketidaktahuan sebagian masyarakat kita, menganggap mereka yang memiliki kemampuan trik kesaktian ditambah dengan akting bak pemain film Mak Lampir, komat-kamit membaca mantra dan wuzzz! terbakar dan sembuh! Dianggap sebagai orang suci atau Wali Allah. Ini yang coba dibongkar oleh Pesulap Merah.

Penulis sendiri pernah mempelajari kerangka berpikir Pesulap Merah untuk menjelaskan keghaiban/kesaktian. Bahwa semua itu, hanya tentang setting manipulasi pikiran belaka. Untuk mendalaminya, Penulis mengikuti sejumlah pelatihan dari Master ke Master hingga Monster ke Monster. Ups sorry!

Kalau orang sudah fasih betul dengan trik kesaktian, maka mau menjadi Master atau Monster tergantung level kesadarannya. Mau digunakan membantu klien dengan upah jasa sekedarnya atau menipu klien dengan meminta tarif setinggi-tingginya.

Level kesadaran pemilik trik kesaktian yang materialistis plus keserakahan, akan mempengaruhinya menjadi Monster. Menipu klien dengan menjejalkan ilusi ketakutan menjadi salah satu cara kerja yang digunakan untuk mendapatkan keuntungan finansial tanpa peduli kondisi ekonomi klien-nya.

Pesulap Mera di Kediaman Perguruan Perisai Batin

Sungguh bagi mereka ‘ketakutan klien’ dapat dikonversi menjadi uang. Apakah ini sah? Jawabannya, terserah pembaca untuk menjawabnya. Toh, ketakutan dalam berbagai hal dipakai untuk mendapatkan keuntungan finansial.

Berdagang misalnya, tidak terlepas dari mekanisme menebar ketakutan terlebih dahulu. Penjual produk shampoo agar laris dalam sejumlah iklannya menampilkan kosa kata ‘rambut rontok’ dan ‘rambut kucel’, selanjutnya menampilkan tebal-indah-lurus dan hitam sebagai efek dari memakai produk shampoo-nya.

Iklan produk shampoo ini, salah satu contoh nyata yang bisa kita amati bagaiaman produsen shampoo menipu konsumennya. Tentu, masih banyak contoh praktek-praktek mendapatkan finansial yang dilakukan dengan cara ‘menebar ketakutan’ terlebih dahulu. Tak terkecuali dunia perdukunan dan kesaktian.

Anehnya, yang menjadi korban tidak hanya masyarakat lapisan menengah ke bawah Pendidikan maupun ekonominya, melainkan juga kalangan atas yang ternyata menjadi korban dari Monster-monster itu, walaupun hanya sedikit.

Untuk korban dari masyarakat menengah ke bawah cukup banyak. Ibarat pepatah; sudah jatuh ditimpa tangga! Itu pepatah yang pas untuk menggambarkan masyarakat kita. Kualitas Pendidikan dan ekonomi menjadi sebab mereka gampang terpancing dengan ketakutan-ketakutan yang disebarkan secara sengaja oleh Monster-monster itu!.

Menanggapi hal tersebut, seorang teman penulis nyeletuk! Ini era post truth, harus kuat menjaga focus kesadaran kita Bro!. Di era ini, kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran. Caranya gampang sekali. Mainkan emosi dan dan perasaan orang agar kebohongan dapat menembus critical area bawah sadar seseorang sehingga mempercayai kebohongan begitu saja, tanpa harus melakukan cek and ricek terlebih dahulu.

Semakin diperparah karena kondisi masyarakat kita tidak tahu menahu bahwa semua hal dapat dikorversi menjadi uang, tak terkecuali agama. Penipuan yang dikemas dengan agama seringkali melabilkan kewarasan masyarakat kita.

Para penjarah legal tapi tak bermoral itu, seringkali menjadikan kebohongan sebagai kebenaran. Perlu sekali-kali diatasi dengan cara seperti Pesulap Merah lakukan. Tentu Pesulap Merah juga tidak murni-murni amat, benar dia melakukan edukasi dengan membongkar trik perdukunan dan kesaktian, tapi di sisi lain diapun memburu uang dari akun youtubenya juga bukan?

Apapun motifnya, Pesulap Merah sudah melakukan hal baik, tapi tentu sisi baiknya tidak murni 100%. Demikian para monster juga tidak 100% melulu mewakili kejahatan. Ibaratkan filosofi Yin dan Yang dalam ajaran Tao, Yin berwarna putih menyisakan titik hitam, Yang berwarna Hitam menyisakan titik putih. Artinya, seseorang tidak seutuhnya baik dan tidak seutuhnya jahat.

Dan yang terpenting, jangan sampai kita tidak tahu motif kepentingan di belakang sebuah tindakan. Tapi selagi kepentingan itu, lebih banyak manfaat daripada mudaharatnya, sebaiknya dukung saja. Tapi ingat! Kebijaksanaan waktu. Bahwa semua tidak abadi, kebermanfaat sebuah tindakan sewaktu-sewaktu bisa menjadi kemudharatan. Wallahu a’lam bi Al-shawaab.  

 

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini