Psikoedukasi=Aeng terro ta’ kettoah, juko’ terro ekolleyah

Setiap kegiatan sebaiknya dilakukan penuh persiapan. Demikian dengan kegiatan psikoedukasi ini, yang dilakukan sebagai ikhtiar agar lancar dan tujuan kegiatan tercapai maksimal. Kemarin (23 Pebruari 2020), Tim Konsensus Bhiruh Dheun bersama semua fasilitator berkumpul untuk mempersiapkan semua hal yang berkaitan dengan intervensi psikoedukasi.

Di sela-sela Doktor Muhid melakukan pendalaman materi modul 1 dan 2, ada pribahasa yang menarik, yang muncul dari salah satu fasilitator, kami menyebutnya Pak Sipul (Nama yang benar “Saifullah”), awalnya ia menanyakan prinsip dari psikoedukasi, kemudian dijawab oleh Doktor Muhid, “bahwa sebenarnya prinsip dari psikoedukasi dalam prakteknya harus menyamarkan tujuan kepada penerima manfaat dari program psikoedukasi”.

Lantas, Pak Sipul nyeletuk dengan sebuah pribahasa; “Aeng terro ta’ kettoah, juko’ terro ekolleyah”. Dengan responsif Doktor Muhid yang orang LA (Lamongan Asli) meminta kepada Muniri (Ketua Konsensus Bhiruh Dheun/orang Bangkalan Asli) untuk mentranslit ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Arti ros lorosen (arti perkata) dari pribahasa tersebut “Ingin air tidak keruh, tapi ingin ikannya didapat”, demikian jawabnya.

Pribahasa “Aeng terro ta’ kettoah, juko’ terro ekolleyah” ini, salah satu kekayaan bahasa dari khazanah local wisdom Madura, khususnya Bangkalan.

Mestinya tidak hanya program psikoedukasi prevensi intensi pernikahan dini saja yang perlu merujuk pribahasa ini dalam pelaksanaannya, bahkan semua bentuk pendampingan masyarakat harus berprinsip seperti halnya pribahasa tersebut. Pendamping masyarakat sekurang-kurangnya harus menguasai strategi komunikasi yang nuansanya “santuy” tapi tepat sasaran.

Aeng terro ta’ kettoah, juko’ terro ekolleyah: Sebuah Teknik Mengurai Relasi Kuasa

Mengurai teknik relasi kuasa bisa disederhanakan dengan kata “pengondisian”. Semisal Presiden RI (Joko Widodo) saat melakukan blusukan ke perkampungan-perkampungan kumuh, atau area yang dianggap perlu ada penanganan permasalahan, pastinya tidak mungkin tanpa persiapan, ada tahapan-tahapan yang dilakukan sehingga area yang akan dikunjungi benar-benar steril dari provokasi massa, dan mengakibatkan Joko Widodo kelabakan, atau bahkan ditolak oleh masyarakat yang dikunjungi.

Melakukan mapping masalah

Seorang pimpinan harus benar-benar tau daerah tersebut, kondisi sosial, ekonomi, dan budayanya. Mengetahui dengan seksama suatu daerah yang menjadi target kunjungan, sangat penting karena berhubungan dengan rasa empati. Masyarakat setempat cendrung menyukai orang yang dapat beradaptasi dengan apa yang dimilikinya.

Mengetahui figur-figur otoritas

Prinsip setiap hutan pasti ada Macan-nya, dan Macan tersebut pasti mempunyai relasi kuasa. Ini merupakan rumus umum dalam kehidupan, yang menjadi bagian upaya yang perlu di urai untuk dikondisikan. Dengan mengenali person-person yang mempunyai pengaruh di tengah masyarakat akan berguna saat butuh dukungan dalam suatu kegiatan/program yang melibatkan masyarakat setempat.

Faktor konsepsi diri seorang pemimpin

Pemimpin yang baik adalah yang mempunyai konsepsi diri yang baik, biasanya berbanding lurus dengan kemampuannya dalam problem solving. Seorang pemimpin tidak harus pintar berteori, harusnya lebih dari itu. Pemimpin perlu punya niatan baik dan siap meluangkan waktunya untuk kerja pengabdian.

Nah, dalam melakukan pendampingan masyarakat upaya-upaya di atas sangat diperlukan. Ada pepatah yang juga sangat bagus untuk dijadikan rujukan terkait dengan persiapan pra-kegiatan, yaitu; “tampil tanpa persiapan, akan turun tanpa penghormatan”. Demikian jika akan melakukan pendampingan masyarakat, agar prosesnya lancar dan tujuannya tercapai maksimal, maka upaya-upaya mengurai relasi kuasa sebelum blusukan dengan dukungan kesiapan mental yang baik, akan mendapatkan penghormatan semestinya. (Moon)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini