Mendengar Suku Madura mungkin tak asing lagi ditelinga orang se-Nusantara. Pulau kecil terletak sebelah utara pulau Jawa yang orang-orangnya memiliki berbagai heterogenitas mulai dari kebiasaan, budaya, Bahasa, wisata dan sebagainya. Dan secara khusus, orang Madura hingga saat ini masih kental dengan nilai-nilai keagamaan.
Keberadaannya yang unik tapi tak luput dari penilaian negatif. Adanya stereotipe dari dunia luar masih seringkali mengidentifikasi orang Madura yang suka dengan kekerasan.
Namun, banyak juga pujian pada orang Madura yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ca’ kanca’an (perkawanan). Bagi orang Madura menjaga hubungan ca’ kanca’an salah satu upaya menjaga harga dirinya.
Tak sedikit cerita, terjadinya carok karena membela “kancah” (teman), tapi yang paling banyak karena ketersinggungan kekasihnya digoda atau diambil orang. Fenomena kukuhnya orang Madura dalam menjaga harga diri sedemikian rupa, menarik sekali untuk dikaji dengan memakai teori hierarki kebutuhan.
Sebelum menjelaskan teori ini, alangkah baiknya mengetahui sosok Abraham Maslow pencetusnya. Ia lahir pada tahun 1908 dari keluarga imigran Rusia-Yahudi di Brooklyn New York.
Ia juga berwatak pemalu, neoretik, depresif tetapi ia berjiwa militan keingin tahuannya dalam berbagai hal. Kecerdasannya sangat mendukung menjadi orang yang mempunyai gagasan cemerlang.
Saat ia beranjak dewasa, Maslow banyak mengagumi beberapa karya pemikiran tokoh-tokoh modern, diantaranya; Plato, Alfert North Whitehead, Thomas Jefferson, Henry Bergson, Baruch Spinoza, dan Abraham Lincoln. Karya-karya tujuh tokoh inilah yang mengantarkan Maslow dapat merumuskan teorinya.
Ada 5 (lima) jenjang jika diiurut dari yang paling dasar, yakni:
- Physiological Needs (kebutuhan fisiologis),
- Safety Needs (kebutuhan akan keamanan),
- Sosial Needs (kebutuhan akan memiliki dan kasih sayang),
- Esteem Needs (kebutuhan akan perhargaan/penghormatan),
- Self-Actualization (kebutuhan akan aktualisasi diri).
Dari teori ini, penulis mencoba mengkaitkan dengan istilah Carok. Sebenarnya, dari zaman Jokotole hingga Cakraningrat, istilah carok masih belum dikenal namun secara tindakan carok sudah ada, bahkan seolah diwariskan hingga saat ini. Walaupun sebenarnya menurut Latif Wiyata, carok yang sering terjadi di Madura sekarang bukanlah carok melainkan pembunuhan biasa.
Carok lebih menampilkan sikap satria, pertarungan disuatu tempat yang disepakati oleh kedua belah pihak, satu lawan satu. Yang menjadi pemicu biasanya sekitar tentang hal yang berkaitan dengan harga diri.
Di atas sudah disebutkan, bahwa terjadinya carok bisa karena membela teman dan kasus rebutan perempuan. Namun secara garis besar, factor-faktornya antara lain; perebutan kekuasan, perebutan warisan tanah, perselingkuhan, bahkan dendam yang tak kunjung berkesudahan. Faktor-faktor ini bisa dikaji dengan teori Maslow yang ke 4, yakni: kebutuhan akan penghormatan.
Diakui atau tidak mayoritas orang Madura lebih memprioritaskan beb tengka (moralitas), karena tidak sedikit masyarakat Madura beranggapan untuk menjaga sebuah reputasi dan mempertahankan stabilitas harga diri, tolak ukur yang paling signifikan yaitu beb tengka.
Mungkin kita akan bertanya-tanya, kenapa hanya persoalan beb tengka dapat merusak reputasi dan mengancam harga diri? Sejauh ini yang saya pandang sejak kecil hingga dewasa dan masuk perguruan tinggi, asumsi kebanyakan orang Madura sepertinya tidak mengalami perubahan.
Orang Madura seringkali tidak menghitung seberapa tinggi intelektual dan spiritual yang dimiliki seseorang, namun lebih pada seberapa jejjeg (istiqamah) dalam menjaga tengka dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya sesama orang Madura.
Kita bisa lihat fenomena Carok disekitar kita, dari beberapa laporan media maupun saksi mata perselingkuhan (ngalak bininah oreng) lah yang kerap kali menjadi pemantik terjadinya Carok. Jadi, terjadinya Carok bukan tanpa dasar bagi warga Madura karena itu cara terakhir dalam menyelesaikan masalah yang menyangkut harga diri.
Namun, satu sisi orang Madura sangat kental dengan budaya keagamaan. Keagamaan tentu berhubungan dengan aspek ketuhanan, sedangkan aspek ketuhanan satu kesatuan dengan kemanusiaan. Mestinya, kalau dipahami dari logika ini, orang Madura sangat menjunjung tinggi perikemanusiaan.
Sekedar harapan Penulis, marilah ca’kanca’an dalam bingkai saling menyayangi, saling menghargai, dan saling menghormati agar dapat menciptakan tatanan peradaban masyarakat yang aman, nyaman, serta tentram sehingga aksi Carok perlahan akan hilang dengan sendirinya. Aaamiiin
Penulis: Badruz Mahasiswa Stit Al-Ibrohimi Galis Bangkalan (Cand Kapitalis Ca’kanca’an)

