Resume Buku: Menemukan Jati Diri Dengan Bertauhid

Pertentangan Ahli Fiqh dan Kaum Sufi

Pertentangan antara Ahli fiqh dan kaum Sufi, sering kita jumpai dalam lipatan-lipatan referensi sejarah. Hingga kinipun, pertentangan antara dua kelompok aliran pemikiran dalam Islam ini, terus ada.

Ahli fiqh menyangsikan amaliah kaum Sufi, yang konon katanya banyak menyimpang dari ketentuan Al-Qur’an dan Hadits. Menurut Penulis, anggapan tersebut bisa saja berbalik, justru ahli Fiqh yang terlalu kaku dalam menjalankan tuntunan agama.

Hal ini, pernah dialami oleh Penulis yang terlibat langsung dalam sebuah diskusi tentang pertentangan Ahli fiqh dan kaum Sufi. Menurut seorang teman yang pendapatnya berada di kubu Ahli fiqh, ia menyangsikan amaliah yang dilakukan oleh kaum Sufi.

Sedangkan di kubu yang lain, pendukung kaum Sufi menanggapi. Bahwa sebenarnya tuduhan tersebut telah menjadi debat panjang antara Ibnu Athaillah Assakandary versus Ibnu Taimiyah. Dalam debat tersebut, dua orang ini sama kuat dalil aqli maupun dalil naqlinya.

Singkat cerita, Ibnu Athaillah Assakandary meluruskan Ibnu Taimiyah yang telah salah duga dengan ajaran Ibnu Arabi (Sufi dan guru dari Ibnu Athaillah Assakandary). Perdebatan dua ulama terkemuka di zamannya ini, kemudian dibukukan. Isi bahasan di dalamnya lebih banyak meluruskan prasangka negatif ahli Fiqh terhadap kaum Sufi.

Ibnu Taimiyah Terkesima Penjelasan Ibnu Athaillah

Ibnu Taimiyah menurut penjelasan buku tersebut mengakui kebenaran yang dipaparkan Ibnu Athaillah Assakandary. Dalam buku ini,  Ibnu  Athaillah Assakandary  mengurai  kesalahpahaman ahli fiqh, termasuk kesalahpahaman Ibnu Taimiyah terhadap sosok Ibnu  Arabi. 

Ibnu  Taimiyah  terkesima, saat Ibnu Athaillah Assakandary menjelaskan ungkapan-ungkapan simbolik dan gagasan Ibnu Arabi. Berikut pernyataan simbolik Ibnu Arabi;

“Siapa  saja  yang  membangun  keyakinannya  semata‐mata  berdasarkan  bukti‐bukti  tampak dan  argumen  deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang  tak bisa diandalkan. Ia akan selalu dipengaruhi oleh sanggahan-sanggahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari  alasan  logis  melainkan  tercurah  dari  lubuk  hati”. 

“Adakah  pernyataan yang seindah ini?” Tanya Ibnu Athaillah kepada Ibnu Taimiyah.

Dalam ketersimaan, Ibnu Taimiyah menanggapi;

“Anda berbicara dengan baik, andaikan saja gurumu seperti yang Anda katakana, maka ia sangat jauh dari kafir. Tapi, menurutku apa yang telah diucapkan tidak mendukung pandangan yang telah Anda kemukakan”.

Tanggapan Ibnu Taimiyah seolah membenarkan argumentasi Ibnu Athaillah. Namun, bukan berarti Ibnu Taimiyah sepakat dengan keseluruhan nalar Sufi. Hanya saja, Ia dan Ibnu Athaillah sepakat, bahwa berbicara amal ibadah sejatinya kembali kepada individu masing-masing, yang yakin dengan nalar fiqih silakan, demikian bagi yang meyakini nalar Sufi dalam beribadah, juga silakan.

Seperti yang disinggung di atas, tetap saja dua kubu ini (ahli fqih dan kaum Sufi), dalam satu kesempatan berbeda pendapat. Penulis sendiri, pernah terlibat dalam perdebatan tentang antara dua kubu pemikiran ini.

Kalimat-kalimat Tauhid dalam Al-Qur’an

Dalam diskusi yang Penulis singgung di atas, salah satu teman memperkuat argumentasi kaum Sufi. Ia menyampaikan bahwa dalam al-Qur’an ada empat kalimat tauhid, diantaranya yaitu; Laa ilaha Illa Allah (tiada Tuhan selain Allah), Laa ilaha Illa Huwa (Tiada Tuhan selain Dia), Laa ilaha Illa Anta (Tiada Tuhan selain Engkau), dan yang terakhir Laa ilaha Illa Ana (Tiada Tuhan selain AKU).

Menurut teman Saya, bagi kaum Sufi kalimat-kalimat di atas, menjadi sesuatu yang bermakna luar biasa, yang berkenaan dengan kondisi ruhani seseorang yang mengalami ektase ilahi. Tapi sayang, penjelasan teman Saya berhenti di situ, karena bel tanda jam istirahat sudah selesai. Dan diskusi, tidak ada kelanjutannya.

Cukup lama Saya terngiang-ngiang penjelasan itu. Hingga akhirnya, Saya mencoba mengkaji sendiri. Referensi-referensi Saya kumpulkan, baik tertulis maupun hasil wawancara dengan pejalan Sufi.

Saya mendapatkan pemahaman, bahwa kalimat-kalimat tauhid tersebut sejatinya berurutan. Mulai dari Laa ilaha Illa Allah, Laa ilaha Illa Huwa, Laa ilaha Illa Anta, dan yang terakhir Laa ilaha Illa Ana.

Sebenarnya, dalam al-Qur’an tidak dijelaskan urutan-urutannya. Namun, berdasarkan hasil diskusi, susunan kalimat-kalimat tauhid tersebut, jika disesuaikan dengan pengalaman spiritual yang dialami oleh pejalan Sufi, kurang lebih sebagaimana tertulis di atas urutannya.

Laa ilaha Illa Allah (Tiada Tuhan Selain Allah)

Kalimat tauhid ini, merupakan penghayatan pertama bagi pejalan Sufi. Penghayatan kalimat ini, beranggapan bahwa meng-Esakan Allah dan penisbian atas selain-Nya adalah hal pertama yang perlu dilakukan.

Meng-Esakan dan menisbikan sesuatu selain Allah, hingga seseorang haqqul Yaqin, hanya Allahlah Sang Pencipta, Pemberi, dan Pengatur segala yang ada di alam semesta. Jika sudah haqqul Yaqin, seseorang hanya takut dan hanya berharap kepada Allah.

Bagi orang yang sudah haqqul Yaqin, ia sangat tegas batas antara Pencipta dan yang diciptakan. Dan sudah barang tentu, Allah diproyeksikan sebagai dzat yang Maha Menghukum bagi pelaku kejahatan, dan dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang bagi pelaku kebaikan. Sangat jelas pula, mana baik menurut Allah, dan mana yang buruk menurut Allah, dan semua manusia harus mengikuti ketentuan tersebut.

Laa ilaha Illa Huwa (Tiada Tuhan Selain Dia/Allah)

Orang yang sudah sampai pada penghayatan kalimat tauhid ini, penggambaran tentang Allah berbeda dengan yang sebelumnya, proyeksi tentang Allah menjadi abstrak. Tetapi Allah baginya, adalah dzat yang pasti “ada’, namun dalam level perwujudnya, hanya Allah yang tau. Karena hanya Allah yang tau tentang dirinya, maka Allah suci dari proyeksi pikiran manusia.

Sebagaimana menurut Ibnu Araby, bahwa sucinya Allah adalah kondisi dimana Allah hanya dapat ditunjuk dengan kata “Dia” (Huwa) yang sendiri, “Dia” yang keberadaan dan kesendiriannya tidak dapat dilukiskan karena kemenyendirian-Nya, sehingga “Dia”, satu-satunya, yang berhak memiliki wujud dan disebut sebagai wujud, sementara yang selainnya hanyalah maujudaat.

Laa ilaha Illa Anta (Tiada Tuhan Selain Engkau/Allah)

Orang yang sampai pada penghayatan kalimat tauhid ini, memandang semua yang ada di alam semesta ini adalah Allah, baginya Allah benar-benar hadir, dan kehadiran Allah benar-benar nyata dirasakan oleh kesejatian ruhnya. Dalam setiap entitas ada Allah, tidak pandang apa wujudnya, benda yang kelihatan hidup, maupun yang kelihatan mati, yang kelihatan indah maupun yang terlihat buruk, dan yang tampak mulya maupun yang dianggap  hina.

Orang yang sampai pada tingkatan pemahaman ini, meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta semuanya dalam “kesatuan”, dan meyakini pula bahwa satuan wujud ternampak yakni, benda, merupakan satuan terkecil dari molekul. Molekul satuan terkecil dari atom. Partikel merupakan satuan terkecil dari atom. Dan derajat quanta satuan terkecil dari quark, sedangkan quark yang paling halus dan kecil susunannya.

Gambaran urutan entitas alam semesta ini, merupakan temuan ahli fisika. Menurut ahli fisika, alam semesta adalah realitas energi yang menyatu satu sama lain dan sama-sama mempunyai getaran energi magnetik. Mungkin saja, ungkapan Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa di Langit dan di Bumi semuanya bertasbih menyebut nama Allah, dapat dijadikan dalil bahwa bertasbih dalam bahasa Al-Qur’an sebenarnya bergetar menurut ilmu fisika.

Laa ilaha Illa Ana (Tiada Tuhan Selain Saya/Allah)

Kalimat tauhid ini, merupakan titik penghayatan yang paling dalam tentang Allah. Konon Al-Hallaj mengatakan “Ana al-Haq” dan Syek Siti Jenar mengatakan “Manunggaling Kaulo Gusti”. Dua ungkapan keluar saat keduanya mengalami puncak ektase kesatuan dengan Allah. Sebuah perkataan yang paradok pada zamannya, padahal hanya mau menjelaskan “aku dalam Allah, dan Allah dalam aku”.

Dalam hadits Qudsy dikatakan, “ana inda dzanni ‘abdy” (Saya menurut apa yang hambaku sangkakan). Jika “sangkaan” manusia yang menjadi ukuran proyeksi tentang Allah, secara otomatis manusia berpeluang menarik konsep Allah pada level “Ana” (Saya/Dirinya). Bertitik tolak dari penjelasan hadits Qudsy tersebut, sebenarnya manusia sendirilah yang mendisien mau seperti apa Allahnya dalam level pikiran dan rasanya.

Hasil dari disien personal tentang Allah inilah yang menentukan cara berpikir seseorang. Sadar atau tidak, cara berpikir seseorang menjadi penentu cara pandangnya. Dan dari cara pandangnya, perjalanan hidup seseorang ditentukan.

Kalimat tauhid Laa ilaha illa Ana ini, bisa jadi untuk menjelaskan bahwa “Ana” (saya) inilah, yang menjadi lokus kesadaran, sebuah kesadaran yang bermuara pada “diri”. Dengan beranggapan seperti ini, manusia tidak akan lagi menyalahkan Allah dan juga manusia lain, jika mengalami sebuah kejadian yang tidak menguntungkan dirinya. Saat tertimpa masalah, yang perlu seseorang lakukan adalah segera telaah apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya.

Menelaah diri saat tertimpa masalah, yang demikian inilah kaum Sufi menyebutnya “kesadaran diri’, yakni kesadaran yang berasal dari “jati diri”. Orang yang menemukan dan mengetahui jati dirinya, maka ia akan menemukan dan memahami kehendak Allah, sebagaimana ungkapan “man ‘arafa nafsahu, faqod ‘arafa rabbahu” (Barang siapa mengetahui jati dirinya, maka ia telah mengetahui Rabb-nya).

Titik Balik; Menemukan Jati Diri

Ibaratkan seorang pendaki gunung, tentu setelah sampai puncaknya seseorang akan merasakan nikmat proses pendakian, dan menikmati keindahan puncak gunung, sembari memandang ke segala arah, memandang ke semua objek dengan rasa syukur yang tiada terkira, kurang lebih seperti itulah rasa syukur seseorang yang sudah menemukan jati dirinya.

Dari “Ana” (Saya) ke “Anta” (Engkau)

Selanjutnya, tibalah waktunya untuk turun kembali, dengan kualitas pengalaman dan rasa syukur yang berbeda dengan sebelumnya. Setelah seseorang menemukan jati dirinya (Laa Ilaha Illa Ana), titik baliknya akan lebih selaras dengan “anta” (Laa Ilaha Illa Anta).

Sebagaimana anta kata ganti dari entitas yang berada di depan kita, yang dekat dan terlihat langsung, nyata sifatnya secara fisik, analogi anta ini berkaitan dengan entitas tampak yang ada di alam semesta. Kepada entitas yang tampak tersebut, berilah penghormatan dan cinta. Menghormati dan mencintainya, sama dengan menghormati dan mencintai Pencintanya.

Dari “Ana” (Saya) ke “Huwa” (Dia)

Dilanjutkan pada kata “huwa” (Laa Ilaha Illa Huwa), yang mana arti kata huwa adalah “Dia”. Kata “Dia”, merupakan sebuah kata ganti ketiga tunggal, kata huwa adalah analog dari penjelasan tentang keberadaan entitas yang tidak tanpak secara fisik. Dengan demikian, orang yang mengetahui ke-saya-annya berkecendrungan selaras dengan sesuatu yang tampak maupun yang tidak tampak.

Di atas dijelaskan tentang entitas tak tampak dalam tinjauan ilmu fisika, yang keberadaannya hanya bisa dilihat dengan bantuan alat canggih. Menurut Penulis, entitas tak tampak tidak hanya itu saja, melainkan mencakup makhluk Allah yang tersebutkan dalam Al-Qur’an, malaikan, Jin dan varian-variannya.

Dari “Ana” (Saya) ke “Allah” (Alam Semesta)

Pergerakan kesadaran seseorang dari “Ana” ke “Allah” yang dimaksud Penulis adalah keselarasan Hamba dengan segala ciptaan. Bahwa semua yang ada, semua Allah yang menciptakan. Kesadaran yang sedemikian rupa, menjadi bukti bahwa orang tersebut telah/sudah selaras dengan kesadaran ilahi, diri yang utuh secara universal, keterhubungan, meliputi dan menyeluruh, semua dalam Allah dan Allah dalam semua, Laa Ilaha Illa Allah. Dari rangkaian ana, anta, huwa secara subtansial inilah, makna dari Man ‘arafa nafsahu, faqod ‘arafa rabbahu sepertinya berasal.

Dari kajian tentang ketauhidan dengan mengacu pada kalimat-kalimat tauhid yang ada dalam Al-Qur’an di atas, menegaskan bahwa mempelajari ketauhidan sangat penting. Sekaligus sebagai penguat argumentasi, kenapa ulama terdahulu mengedepankan ajaran “Tauhid” sebagai pengetahuan pertama yang harus dipelajari, sebagaimana dalam sebuah sya’ir dalam kitab Az-Zubad, “Awwalu wajibin ‘ala al-insani # ma’rifat al-ilahi bistiqani (kewajiban paling awal, bagi setiap manusia adalah mengenal dan mengetahui Tuhannya).

Upaya memahami ilmu tauhid sebagaimana penjelasan di atas, serta menarik konsep Allah pada level “Ana” (Saya) sebagai puncak kesadaran diri, akan memberikan dampak positif terhadap kepribadian manusia, dalam tugasnya sebagai khalifah di Bumi, dan selalu memberikan kedamaian di Bumi, serta berakibat pula pada terwujudnya keseimbangan alam semesta. Aaamiiin

Allahu a’lam bi al-shawaab.

***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan dan Dosen STAI Al-Hamidiyah Bangkalan). Sekaligus penulis buku; Menemukan Jati Diri dengan Bertauhid.

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini