Siapakah Orang Bigot?

Akhir-akhir ini, gejala berpikir binary opposition terlihat makin massif. Tidak hanya dalam satu kontek diskursus, tapi di semua kontek diskursus.

Binary opposition dimaksud, adalah cara berpikir dengan prinsip kontras antara dua istilah yang dihadap-hadapkan, seolah dunia terbagi dalam dua klasifikasi struktural.

Dua istilah didudukkan secara eksklusif; on/off, atas/bawah, kiri/kanan, baik/buruk dan lain-lain.

Kontek diskursus politik tanah air, misalnya ada Cebong/Kadrun. Pada fase awal, dua sistem penandaan ini digunakan untuk menunjuk pendukung politik dalam perhelatan Pilpres.

Fase selanjutnya, sebutan Cebong/Kadrun mengalami pergeseran makna yang semakin komplek. Dua sebutan ini, tidak hanya merujuk kepada pendukung politik tertentu, melainkan lebih pada karakteristik berpikir dari seseorang atau kelompok.

Semakin hari, karakteristik sebagaimana pada fase awal mulai mengalami kepunahan, seturut dengan meleburnya dua tokoh dalam pemerintahan yang dulunya dijadikan pusat katalisator kecebongan dan kekadrunan.

Fase lanjutan justru sebaliknya, mengalami modifikasi dan naik kelas menjadi cara pandang. Secara sebutan mungkin Cebong/Kadrun sudah tidak menarik dilafalkan, tapi subtansinya tetap integral dalam diri masing-masing dan berpengaruh pada cara menilai dan mengkritiknya.

Nuansa berpikir binary opposition rentan mengalami simplifikasi dikotomik. Seolah realitas hanya dua saja, dan menutup kemungkinan realitas ketiga. Realitas ketiga biasanya mempunyai sebagian unsur yang ada dalam dua realitas eksklusif tersebut, akan tetapi tidak mutlak, justru berbeda secara dominan.

Misalnya, pada kasus RUU CK. Kalangan Cebong menganggap RUU CK benar keseluruhan dan harus didukung sepenuhnya. Sementara kalangan Kadrun menganggap RUU CK salah keseluruhan, maka harus dikritik, atau bahkan dianulir.

Kalangan di luar Cebong dan Kadrung menganggap sebagian RUU CK, ada aturan-aturan yang perlu didukung, sebagian juga perlu ditolak. Nah, kalangan ini, yang menurut Penulis dianggap sebagai realitas ketiga.

Realitas ketiga seringkali muncul dari orang-orang yang dari awal tidak tertarik dengan arus kecebongan dan kekadrunan. Dan juga, sering muncul dari orang-orang yang sudah menginsafi cara pandang Cebong atau Kadrun.

Realitas ketiga inilah, menurut Penulis harus dikembangkan menjadi cara pandang dominan. Dan tentu harapannya, tidak hanya menjadi sekedar cara pandang, tapi menjadi sistem tindakan.

Realitas ketiga bernuansa moderasi yang penuh kebijaksanaan sebagai pendamai dua kutub ekstrim realitas yang rentan dimanfaatkan oleh orang-orang yang punya kepentingan tapi tidak mau tahu tentang pentingnya ‘kedamaian bersama’.

Mereka itu, orang-orang yang punya kepentingan tapi nirkepedulian pada ‘kebaikan bersama’ adalah ‘Bigot’ (ditulis dengan huruf B kapital). Inilah yang paling berbahaya. Semoga kita diselamatkan dari mereka.

Sedangkan bigot, ditulis dengan huruf B kecil adalah ektrimis karena ketidaktahuan (kurang pengetahuan/belajar), tapi merasa paling tahu. Kita harus tetap moderat kepada para ‘bigot’. Sesungguhnya dia begitu karena tidak tahu, dan perlu diajak “NGOPI”.

*** Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini