Oleh: Muniri Faqod, S.HI, M.HI
Keselarasan manusia dengan kehendak Ilahi, berpengaruh pada selarasnya sistem keyakinan, sistem berpikir, dan sistem perilakunya. Keselarasan tersebut mempengaruhi seseorang dalam menempatkan sesuatu selain Allah. Dalam menempatkan segala hal, yang berhubungan dengan semua yang ada, Ia tempatkan semestinya, sehingga lebih fokus pada peran yang menjadi pilihannya.
Ada peribahasa Madura, yang cocok dijadikan gambaran; “kennengah kennengih, lakonah lakonih” (tempatnya tempati, pekerjaannya kerjakan). Yang demikian ini, hanya orang ajeg yang bisa melakukan. Orang ajeg berkecendrungan fokus dengan tempat yang menjadi tempatnya, dan fokus pada pekerjaan yang memang pekerjaanya. Artinya, orang ajeg, ketika menjatuhkan pilihan, ia setia pada pilihan tersebut tidak peduli apapun resikonya. Sikap ajeg begitu penting sekali dalam kehidupan seseorang, karena bisa menjadi indikator kesempurnaan syahadat. Syahadat sendiri secara analogis merupakan lambang pernyataan kesetiaan, kesungguhan pernyataan akan menuntun seseorang melakukan kebaikan-kebaikan yang selaras dengan kehendak Tuhannya. Keajegan juga menjadi salah satu sebab seseorang mendapatkan kemulyaan baik di dunia maupun akhirat. Penegasan ini, dijelaskan dalam Alquran surat Fussilat ayat 30;
“Sesungguhnya orang‐orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
Ayat di atas diperkuat dalam sebuah hadis, saat Rasullulah SAW ditanya oleh salah satu sahabat;
“Dari Sufyan bin Abdullah ats‐Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata; “Wahai Rasulullah, katakan kepadaku di dalam Islam, satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda!”. “Beliau menjawab: Katakanlah aku beriman, lalu Istiqamahlah”.
Penjelasan hadis ini, menunjukkan bahwa ajeg merupakan satu kesatuan dengan iman, atau bisa diartikan konsekuensi dari keberimanan seseorang, secara otomatis bisa dikatakan, bahwa orang yang tidak ajeg, kemungkinan ada masalah dengan imannya. Sedangkan Iman, berkaitan erat dengan kualitas keislaman seseorang. Sebagaimana untuk menjadi Islam yang paripurna, terdapat 5 (lima) rukun, antara lain; membaca syahadat, melaksanakan shalat, melaksanakan puasa, menunaikan zakat, dan menunaikan haji.
Lima rukun Islam ini, secara simbolik berhubungan dengan bagaimana berperan dalam kehidupan berbasis tauhid, penjelasannya sebagai berikut;
Daftar Isi
Membaca Syahadat
Syahadat merupakan ikrar atau penyaksian manusia untuk mengakui ke‐Esaan Allah SWT dan kepada RasulNya, untuk selalu memasrahkan diri, dan menyatakan kesetiaannya. Berperan dalam kehidupan, seseorang perlu atau wajib mengucapkan syahadat karena berhubungan dengan “niat ingsun”‐nya dalam menjalani kehidupan. Kewajiban “berniat”, menjadi ukuran dari setiap amal yang akan dilakukan oleh seseorang. Pengucapan niat, dilakukan dengan sungguh‐sungguh dalam rangka memurnikan harapan dan tujuan, agar tidak gampang tergoda dengan harapan‐harapan dan tujuan lain yang justru merusak keajegan. Dari penjelasan ini, syahadat sesungguhnya secara simbolik adalah lambang keajegan dan kesetiaan pada komitmen yang sudah disetujui oleh dirinya sendiri.
Melaksanakan Shalat
Shalat secara simbolik merupakan gerakan dinamis, berhubungan dengan naik‐turun dalam kehidupan. Berperan dalam kehidupan, tidak hanya dalam tataran niat (membaca syahadat) saja, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata (aksi). Berusaha maksimal dalam segenap peran diikhtiarkan sebaikbaiknya, dan tentu kualitas ikhtiar ini seturut dengan sejauh mana kemurnian syahadat seseorang dalam menjalani peran kehidupan.
Melaksanakan Puasa
Secara istilah puasa berarti menahan diri dari makan dan minum dari segala yang mebatalkan sejak terbitnya fajar hingga terbenam matahari. Dari kata “menahan”, bisa dimaknai secara simbolik, puasa berhubungan dengan kendali gerak, dan masuk wilayah kecerdasan emosional. Berperan dalam kehidupan agar maksimal, seseorang harus terampil mengendalikan geraknya, agar tetap berada dalam jalur harapan dan tujuan, sebagaimana yang diucapkan dalam niatnya.
Menunaikan Zakat
Arti kata zakat, adalah berkembang, berkah, banyaknya kebaikan, menyucikan, dan memuji. Secara istilah diartikan memberi harta tertentu dan wajib diserahkan kepada golongan tertentu. Secara simbolik arti zakat, bisa disederhanakan sebagai anjuran untuk berbagi dengan landasan kasih sayang dengan simbol berbagi sebagian rezeki kepada orang yang membutuhkan. Berperan dalam kehidupan, sesunggunya tidak membatasi apa seharusnya yang perlu dibagikan kepada sesama. Kita bisa berbagi sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, bisa berbagi ilmu, harta, tenaga, dan sikap yang baik.
Menunaikan Haji
Kalau dipahami dari makna rukun‐rukun haji, mulai dari ihram, wukuf, tawaf, dan sai, sepertinya erat hubungannya dengan pencapaian ketenangan dan kedamaian batin. Hal ini, bisa diperoleh dengan melepaskan diri dari hal‐hal yang bersifat duniawi. Saat melakukan ihram segala kain yang kita pakai diganti dengan kain putih untuk menutupi tubuh, yang maknanya segala kesenangan duniawi dan kepemilikan harus dilepaskan saat melakukan ihram. Pada saat melakukan wukuf, seseorang diminta untuk melakukan instrospeksi diri, bahwa tidak ada satupun peran kita dalam kehidupan yang tak berhubungan dengan kesatuan pada semua yang ada. Sedangkan melakukan tawaf yang mengelilingi Kakbah sebanyak 7 kali, menjadi perlambang bahwa kita dan peran yang dipilih harus disandarkan dan dikembalikan kepada Allah. Dan yang terakhir melakukan sai, secara simbolik kalau dilihat dari sejarahnya, merupakan kegigihan Siti Hajar, bahwa setiap pikiran, keinginan, dan perbuatan yang berangkat dari kemurnian syahadat (shafa) akan berbalas kedudukan mulya di sisi Allah SWT (Marwa). Dengan demikian, haji secara simbolik jika dihubungkan dengan peran seseorang dalam kehidupan. Hendaknya, seseorang senantiasa menyempatkan melakukan mawas diri dan kontemplasi terus‐menerus di sela‐sela perannya dalam kehidupan.
Lima hal ini, membaca syahadat, shalat, puasa, zakat, dan naik haji secara simbolik merupakan citra ideal seorang Muslim berperan dalam kehidupan berbasis tauhid. Jika tauhid dimaknai sebagai keselarasan makhluk dengan kehendak Khaliknya, maka menjalani hidup dengan mengikuti tarian takdir dengan segenap kepasrahan merupakan sesuatu yang paling disukai oleh Allah. Hanya saja anjuran “berpasrah” sebagaimana makna implisit dari kata “Islam” sering tergeser oleh kecendrungan diri yang menghendaki perebutan tanpa pijakan nilai. Memilih menguatkan daya pasrah berhubungan dengan sejauh mana tingginya tauhid seseorang. Dengan kuatnya daya pasrah diri, seseorang dapat mengendalikan kecendrungan diri yang menghendaki berebut tanpa pijakan nilai, diarahkan pada nuansa berlomba-lomba dalam kebaikan.

