Tafsir Sosial Dhamir Muttashil dan Munfashil

Ada kandungan filosofis dibelakang penjelasan tentang dhamir. Pada tulisan ini dibahas tafsir sosial dhamir Muttashil dan Munfashil. Misalnya dapat dianalogikan dengan kode etik dalam menata organisasi, bisa juga dianalogikan dengan etika dalam berpoligami. Ternyata memahami tentang dhamir sangat luas. Berikut tulisan tafsir sosial dhamir muttashil dan munfashil. Selamat membaca!

Penulis menemukan isyarat filsafat komunikasi dalam kitab Alfiah Ibnu Malik, berkenaan tentang bagaimana memperlakukan in group dan out group dalam sebuah organisasi.

Penulis meyakini banyak sekali isyarat-isyarat tersebut, tidak hanya tentang ‘komunikasi’ saja. Namun, dalam tulisan ini, Penulis hanya mengulas beberapa nadham. Adapun bunyi nadhamnya, sebagai berikut;

وَذُو اتِّصَالٍ مِنْهُ مَالاَ يُبْتَدَا #   وَلاَ يَلِي إِلا اخْتِيَاراً أبَدَا

Arti yang sebenarnya: Dhamir muttashil adalah dhamir yang tidak bisa dibuat permulaan kalam dan tidak bisa jatuh setelah illa (إِلَّا) pada waktu ikhtiyar.

Nadham ini, bisa ditafsirkan begini:

Setelah organisasi terbentuk, secara otomatis melahirkan klasifikasi in group dan out group. In group adalah orang yang tercakup dalam organisasi secara keseluruhan. Sedangkan out group sebaliknya. Kebiasaan sebuah organisasi, ada anggota yang berposisi muttashil. Adapun pengertian orang muttashil adalah orang yang tidak duduk di jabatan strategis, tapi keberadaannya menentukan perjalanan roda organisasi. Orang muttashil memang hanya sebagai pelengkap yang tidak untuk diprioritaskan, tetapi tidak bisa dikecualikan keberadaannya dalam sebuah organisasi.

Nadham selanjutnya, sebagai berikut;

وَذُو ارْتِفَاعٍ وانْفِصَالٍ أنَا هُوْ #  وَأَنْتَ وَالفُرُوعُ لا تَشْتَبِهُ


 وَذُو انْتِصَابٍ فِي انْفِصَالٍ جُعِلا #  إيّايَ والتَّفْرِيعُ لَيْسَ مُشْكِلاَ


 وَفِي اخْتِيَارٍ لا يَجِيءُ المنُفَصِلْ # إذَا تَأَتَّى أنْ يَجِيء المُتَّصِلْ

Arti yang sebenarnya:Dhamir munfashil (منفصل) yang mahal rafa’ ialah seperti أَنَا, هُوَ, أَنْتَ, dan sebagainya. Dhamir munfashil yang mahal nashab yaitu إياك dan semacamnya. Pada waktu ikhtiyar, tidak boleh mendatangkan dhamir munfashil apabila masih bisa mendatangkan dhamir muttashil (متصل), seperti جَاءَ أَخُوْ إيَّاكَ, menjadi جَاءَ أَخُوْكَ

Menurut Penulis dapat ditafsirkan begini; Sedangkan orang munfashil adalah out group. Orang-orang yang berada di luar organisasi. Orang munfashil adalah orang yang terpisah, berdiri sendiri, dan tidak mempunyai ikatan resmi dengan organisasi tapi orang munfashil mempunyai kepedulian dengan organisasi tersebut.

Sangat disarankan untuk orang-orang munfashil ini, jika dia dikenal baik, mempunyai kemampuan yang dibutuhkan organisasi dan banyak pengikutnya ajaklah dia bergabung dalam organisasi. Demikian juga, dengan orang-orang munfashil yang mempunyai pikiran terbuka, ajak bergabung kedalam organisasi. Tetapi dalam urusan yang sangat penting, tetap jangan didahulukan, selama masih ada orang-orang muttashil yang bisa melakukannya.

Tafsir sosial atas nadham Alfiah di atas, istilah muttashil dan munfashil dianalogikan dengan istilah in group dan out group dalam sebuah organisasi. Apakah mungkin dianalogikan lain? Bisa saja. Misalnya, menganalogikan istilah muttashil dan munfashil dalam kontek poligami. Muttashil adalah istri pertama, sedangkan munfashil adalah istri kedua.

Lelaki pelaku poligami harus tahu tafsir nadham Alfiah ini. Tidak boleh mendahulukan istri kedua, jika masih ada istri pertama. Demikian, perempuan yang berstatus istri kedua harus tahu diri. Istri pertama tahu haknya, harus menjadi prioritas utama. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

***Penulis: Muniri Faqod (Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah Pramian Sampang)

Tim Redaksi
Tim Redaksi
Pegiat Literasi Bangkalan Madura

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini