Penjelasan tentang tauhid bisa ditemukan di banyak karya‐karya ulama terdahulu, hingga ulama‐ulama modern. Ilmu tauhid, sebagaimana ilmu‐ilmu keagamaan lainnya menjadi salah satu ilmu yang penting untuk dipelajari. Kata tauhid, sebagaimana diketahui bersama, berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti “satu atau tunggal”. Sedangkan secara istilah mempunyai pengertian peng‐Esa‐an Allah, dan tiada sekutu bagi‐Nya dalam semua hal.
Salah satu ulama klasik, yakni Alghazali, dalam karya besarnya Ihya’ ‘Ulum ad‐Din menjelaskan tentang tingkatan tauhid (Al-Ghazali: 1986). Menurutnya, ada empat tingkatan tauhid. Pertama, seseorang mengakui ke‐Esaan Allah dengan lisan tapi tidak dengan hati. Yang demikian, sudah jarang ditemukan, apalagi berada dalam suasana damai, bukan dalam peperangan yang menghendaki pemaksaan iman.
Kedua, meyakini ke‐Esaan Allah dengan hati. Dilihat dari kecendrungan hidup akhir‐akhir ini, sepertinya lebih banyak orang merasa nyaman di tingkatan kedua. Banyak orang yang merasa cukup dengan hanya membaca dua kalimat syahadat, tapi prilakunya tidak mencerminkan nilai‐nilai ketauhidan.
Ketiga, menyaksikan ke‐Esaan Allah dengan cara menyingkapnya melalui cahaya kebenaran. Ketersingkapan cahaya kebenaran dapat dicapai tidak terlepas dari hubungan antara indera dan akal. Indera sebagai pintu masuk pengetahuan sedangkan akal mengolah dan menyusunnya.
Keempat, seseorang tidak melihat eksistensi kecuali ke‐Esaan. Seseorang yang mencapai tingkatanan tauhid ini, yang hadir dalam penglihatannya hanya ketunggalan. Ia memandang yang ada di langit dan bumi hakikatnya berasal dari Sang Tunggal, yaitu Allah SWT. Karena semua berasal dari Allah, maka tak ada perbedaan warna, tinggi‐rendah, kaya‐miskin, barat‐timur, bahkan baik‐buruk.
Idealnya, tiga argumentasi keberadaan Allah (kosmologis, ontologis, dan teleologis) bisa dianggap cukup untuk sekedar pencarian bukti wujud‐Nya, selebihnya berhubungan dengan hidayah Allah itu sendiri (Quraish Shihab: 2002). Lebih lanjut, untuk memahami konsep ke‐Tuhanan, perlu memahami secara filosofis proses pemaknaan tentang konsep Tuhan. Baca juga: https://blog.bhiruhdheun.com/resume-buku-menemukan-jati-diri-dengan-bertauhid/
Awalnya dari Sang Ghaib, kemudian manusia menangkap kesan dari Sang Ghaib, dan manusia menganggap Sang Ghaib sebagai Tuhan universal. Karena universal, maka tentunya tak terbatasi oleh ruang dan waktu, tak terdefinisikan, dan bukan milik manusia (suku, etnis, bangsa) tertentu, melainkan milik semua manusia yang ada di dunia.
Namun, seiring perjalanan manusia sadar adanya Sang Ghaib. Mereka mencoba memaknai keberadaan Sang Ghaib, kemudian menghubungkannya dengan ruang dan waktu dimana manusia ini hidup di dunia. Hasilnya di sisi tertentu, design tentang Sang Ghaib berkecendrungan berbeda antar manusia dibelahan bumi manapun.
Sementara di sisi yang lain, semua manusia cendrung bersepakat bahwa Sang Ghaib adalah Sang Penolong sejati dan menjadi tempat pelarian semua ciptaan untuk meminta pertolongan. Maka, tidak aneh di zaman peperangan dulu, kedua belah pihak sama‐sama berdo’a kepada Tuhannya masing‐masing, dan do’anya sama yakni meminta kemenangan dan perlindungan. Saat Sang Ghaib dimaknai sebagai milik manusia (suku, etnis, bangsa) tertentu, saat itulah manusia menyederhanakan konsepsi Tuhan universal menjadi Tuhan komunal.
Selanjutnya, setelah Sang Ghaib dimaknai sebagai Tuhan komunal, tak menutup kemungkinan Sang Ghaib dimaknai dalam lingkup personal, dan tentu akhirnya menjadi Tuhan personal. Sebagai makhluk ruhani. Semua manusia di belahan dunia manapun pasti mempunyai pengalaman ruhani. Pengalaman ruhani ini yang nantinya menjadi pemantik untuk memaknai kediriannya, dirinya dengan alam semesta, dan dirinya dengan Sang Ghaib.
Hasil dari pemaknaan ini, sebagian besar antara manusia satu dan lainnya berkecendrungan berbeda. Selama manusia bisa menjauhkan diri dari merasa yang paling benar dan paling berhak, maka mengkonsep Sang Ghaib sebagai Tuhan Komunal dan personal tidak ada masalah karena merupakan keniscayaan. Ini merupakan sunnatullah.
Dengan adanya perbedaan ini, kita diminta oleh Allah untuk saling memahami satu sama lain. Dengan saling memahami akan melahirnya rasa sayang. Sedangkan rasa sayang menggerakkan keinginan untuk saling tolong menolong. Suasana tolong menolong melahirkan kehidupan yang harmonis. Dari keharmonisan inilah lahir kebaikan‐kebaikan. Dan Allah menyayangi semua manusia yang senantiasa memberikan kebaikan‐kebaikan dalam hidupnya.
***Penulis: Muniri Faqod (Direktur Konsensus Bhiruh Dheun Bangkalan dan Dosen STAI Al-Hamidiyah Bangkalan)
NB: Tulisan ini diambil dari buku berjudul Menemukan Jati Diri dengan Bertauhid karya Muniri Faqod.

