Oleh: Muniri, S.HI, M.HI
“…Ketiadaan adalah pabrik di mana Tuhan menciptakan segala sesuatu”.
– Jalaluddin Rumi –

Seorang teman, mengirimkan puisi yang berjudul bubarnya agama, Saya memberikan apresiasi; MANTAB!!! Ada teman yang membagikan di laman FB-nya, komentar caci makipun mengalir deras…hehe
Puisi tersebut tidaklah salah, isinya mengajak agar kita semua menjadikan wabah Corona sebagai media perenungan tentang keberagamaan kita, yang lebih menonjolkan simbol dan ritual saja. Kita kebanyakan lupa, bahwa ada sisi tujuan beragama yang kadang sering dikaburkan, yakni penemuan Jati Diri. Inilah inti agama sebenarnya, selebihnya hanya media penghantar menemukan Tuhan yang di dalam kita, ya di dalam kita semua yang menjadi microkosmos (Jagat alit)
Ini bukan pemahaman dari ruang kosong, hampir 12 tahun, saya menemui beberapa pejalan spiritual. Mereka bercerita tentang pengalaman saat melakukan perjalanan spiritual, mereka mengaku sering terjebak pada obsesi untuk mengejar berbagai “pengalaman spiritual”. Salah satunya berkeinginan kuat melihat wajah Tuhan, ingin bercakap‐cakap dengannya, ingin menyentuh dan mengecup‐Nya, ingin bercinta dengan‐Nya. Padahal obsesi yang sedemikian rupa, sering membuat mereka tidak menyadari, justru dengan keinginan yang menggebu‐gebu ini, menjadi penghalangnya dalam mendapatkan pengalaman spiritual yang sebenarnya.
Mengapa demikian?
Karena tanpa disadari pejalan spiritual terpaku pada konsep bahwa Tuhan terpisah dengan dirinya. Ternyata, selama masih ada keinginan untuk bertemu dengan Tuhan, tanpa disadari memunculkan sebuah pengertian bahwa masih ada jarak, masih ada keterpisahan. Maka Tuhan pun tak akan menjadi sebuah pengalaman nyata.
Keinginan pejalan spiritual untuk bertemu dengan Tuhan justru akan menciptakan ilusi tentang Tuhan, karena keinginan itu justru menjadi bahan bakar yang amat dibutuhkan oleh mesin pencipta ilusi yang bernama pikiran.
Maka, ketika kita merasa telah mengalami bertemu Tuhan, karena berdzikir atau bertafakkur, kita seolah telah melihat cahaya yang amat terang, mendengar suara, merasakan getaran‐getaran hebat di tubuh atau melihat sosok tertentu. Semua itu terbentuk karena obsesi pikiran kita sendiri.
Seringkali kita menemukan anjuran di dalam Alquran agar kita melakukan kebaikan kepada sesama, bahkan agar menjadi rahmat bagi sekalian alam. Ini artinya, kita diminta agar mendapatkan pengalaman nyata keber-Tuhan‐an, melalui semua ciptaan‐Nya, karena pada dasarnya setiap yang ada merupakan pancaran dari‐Nya. Maka dengan melakukan kebaikan kepada semua ciptaan‐Nya, sama dengan mendapatkan pengalaman nyata kehadiran-Nya.
Kita lebih terfokus pada sisi yang dapat diamati oleh mata, padahal sisi kasatmata kita berasal dari sisi tak kasatmata. Ahli fisika menyebutnya, dunia implicate (tidak tampak) dan explicate (tampak). Keduanya, saling terkoneksi dan menjadi bagian dari pola kosmik agung dalam semua sisinya yang taat aturan. Siapa yang Maha Mengatur di balik yang tak kasatmata? Tentu Dia yang bukan Dia, maka hakikatnya, dari Dia-lah semua keberadaan berasal.
Demikian juga, Jika semua keberadaan yang ada di sekeliling kita, merupakan pancaran Allah, maka betapa dekatnya Allah dengan semua ciptaan‐Nya. Allah dan makhluknya tiada terpisah sedikitpun, hanya pikiran kita sajalah yang dalam keadaan lengah sering menganggap Allah terpisah dengan semua ciptaan‐Nya. Itulah mengapa kita lebih sering menonjolkan simbol dan ritual keagamaan? karena kita belum sadar seutuhnya bahwa Allah lebih dekat dari urat leher kita. Wallahu a’lam bi Al-shawaab

